Tuntut Ganti Rugi Lahan ke KemenPU-Pera, Warga Makassar Tutup Jalan Tol

oleh -55 views
Aksi Unjuk Rasa di Tol Reformasi  (19/10/2016)
MAKASAR-SULSEL, SriwijayaAktual.comPuluhan warga aksi unjuk rasa  menutup jalan tol di gerbang Kaluku Bodoa, Kecamatan Tallo, Makassar,
Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Rabu (19/10/2016). Mereka menuntut ganti rugi pembebasan lahan proyek jalan
tol senilai Rp 9 miliar lebih ke pihak Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat (KemenPU-Pera).

Para pendemo mengatasnamakan
ahli waris Intje Koemala versi Chandra Taniwidjaya. Mereka juga didukung
kelompok mahasiswa. Akibatnya, arus kendaraan melambat karena badan
jalan menyempit.

Aksi ini juga dikawal ketat dan dipantau langsung Wakapolrestabes
Makassar, AKBP Hotman Sirait dan Kapolsek Tallo, Kompol Henki Ismanto.

Kuasa
hukum warga, Andi Amin, mengatakan pihaknya kembali unjuk rasa karena
hingga 15 tahun diperjuangkan, dana ganti rugi belum juga cair. Padahal
kliennya telah memenangkan sengketa hingga tingkat Mahkamah Agung.
“Kami akan terus turun jalan hingga ganti rugi dibayarkan,” kata Andi Amin.

Tuntutan Tidak Didengar KemenPU-Pera, Warga Makassar Buka Tenda di Tol
Aksi unjuk rasa puluhan warga di Makassar menuntut ganti rugi
Rp 9 miliar masih berlangsung, Rabu (19/10). Setelah menutup sebagian
jalur tol, mereka kini mendirikan tenda di pinggir jalan di depan
Gerbang Kaluku Bodoa, Kecamatan Tallo, Makassar.

Kuasa hukum
warga, Andi Amin, menuturkan pendirian tenda ini sengaja dilakukan
sebagai wujud perjuangan. Sebab, pihaknya tidak mendapat kepastian
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPu-Pera) mengenai
ganti rugi.

Warga Blokir Jalan Tol di Makassar, Masang Tenda
Menurut Andi, aksi ini sebenarnya tidak perlu
dilakukan. Namun, ketika mendatangi kantor Dinas Pekerjaan Umum Sulawesi
Selatan (Sulsel), pihaknya tidak mendapat respon baik.
“Katanya Pak Kadis tidak ada. Jadi kami hanya ditemui seorang Kepala
Bidang dan mereka mengaku tidak tahu menahu kasus sengketa tanah di
jalan tol itu,” kata Andi Amin.

Andi menegaskan terus menggelar
unjuk rasa sampai pihak KemenPU-Pera mencairkan dana ganti rugi
pembebasan lahan yang sudah 15 tahun diperjuangkan. “Kita buat tenda di
sini untuk jadi posko aksi agar khalayak tahu perjuangan kami,”
terangnya Andi Amin. (*). 

Sumber, Merdeka.com 

No More Posts Available.

No more pages to load.