Tol Macet Parah, Jalur Pantura Jadi Alternatif Pemudik

oleh -
Arus Mudik Hari Raya Idul Fitri (Ilust/net)

JAKARTA, SriwijayaAktual.com – Kemacetan parah di jalan tol masih berpotensi besar terjadi saat puncak arus mudik Lebaran pada akhir pekan ini. Untuk menghindari penumpukan, pemudik diimbau memanfaatkan jalur-jalur alternatif seperti jalan pantai utara (pantura). 


Dari pantauan terakhir, kondisi jalan pantura baik di Jawa Barat, Jawa Tengah maupun Jawa Timur sudah siap dilalui untuk para pemudik. Setelah tol Cipali mulai beroperasi pada 2015 lalu, jalur pantura di Jawa Barat lebih banyak dimanfaatkan para pemudik bermotor. 

Kepadatan di tol pada tahun ini diprediksi masih akan terjadi karena pemudik berkendaraan pribadi umumnya memanfaatkan jalan tol sebagai pilihan utamanya. Apalagi, tahun ini, tol Cipali telah tersambung hingga ke Brebes Timur, Jawa Tengah. Titik-titik potensi kemacetan di tol antara lain di gerbang tol Palimanan dan Brebes Timur. 


Pemecahan arus kendaraan sejak dini diharapkan bisa meminimalisasi kemacetan yang parah. Kepala Satuan Kerja Wilayah I Jawa Barat Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN IV) T Yuliansyah mengatakan, 95% kondisi Jalur pantura Jawa Barat siap dan mantap untuk dilalui saat arus mudik. Untuk memperkuat jalur, pihaknya telah melakukan pembetonan. 


”Beton dipilih karena volume kendaraan yang akan melalui jalur pantura cenderung kendaraan-kendaraan besar nantinya,” ujar Yuliansyah. Di jalur ini diakui terdapat 28 pasar tumpah yang bisa memicu kemacetan. Namun sejumlah pemerintah daerah (pemda) sudah mengantisipasi dengan melakukan pendekatan langsung ke para pedagang. 


Mulai H-7 Lebaran, diharapkantidakadaaktivitaspasartumpahyang sampai mengganggu arus lalu lintas. Untuk antisipasi bencana banjir, sejumlah gorong-gorong di jalur pantura sudah diperbaiki dandilebarkan.”Standarkitamengarah ke 95% mantap. Sisanya karena musim hujan akan ada lubang-lubang di jalan. 


Tapi akan kita kerjakan penambalannya,” imbuh Yuliansyah. Jalur pantura Jawa Tengah hingga Surabaya, Jawa Timur, juga dinyatakan siap dilalui. ”Prinsip kita adalah jangan ada jalan berlubang. Kita pastikan itu,” ujar Kepala BBPJN V I Ketut Darmawahana di Yogyakarta, Minggu (26/6/2016). 


Pengelola tol Cipali memprediksi, puncak mudik Lebaran di jalan tol ini diprediksi terjadi pada H-3 atau Minggu (3/7). Wakil Direktur Utama PT Lintas Marga Sedaya (LMS) Hudaya Arryanto memperkirakan, pada puncak mudik itu, jumlah kendaraan yang melintasi jalan tol Cipali diperkirakan mencapai 65.000 hingga 75.000 unit. Untuk memberikan kelancaran lalu lintas dan kenyamanan pemudik, pihaknya melakukan berbagai antisipasi. 


Di antaranya memberlakukan integrasi sistem pembayaran tol dan perbaikan rest area. ”Sebab Lebaran tahun lalu banyak masyarakat yang mengeluhkan fasilitas rest area,” kata Hudaya. Perbaikan antara lain dengan membangun sumur-sumur (toilet) baru untuk ketersediaan dan kebutuhan air bersih. 


Selain itu areal parkir juga diperluas sehingga tak lagi memicu kemacetan di dekat rest area. Survei yang dilakukan Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai- Kopi) juga mengungkapkan, 86% masyarakat Jakarta akan lebih memilih mudik dengan menggunakan kendaraan pribadi daripada menggunakan moda transportasi umum. 


Juru bicara lembaga KedaiKopi, Hendri Satrio, mengungkapkan, dari 400 responden, 86% di antaranya memiliki rencana untuk mudik pada Lebaran tahun ini. Waktu yang dipilih untuk mudik adalah beragam, ada yang H-7 (32,3%), H-3 (28,6%), H-1 (12,5%), H+1 (8,9%) dan pada hari H (6%). 


Sebagian kecil berencana mudik jauh hari pada H-10 (5,5%), sementara sisanya belum memutuskan. ”Pemerintah disarankan tetap melakukan rekayasa lalu lintas, termasuk pengaturan keluar masuk restarea di jalan tol. Selain itu sebaiknya masyarakat mengatur rencana keberangkatan agar tidak terjebak kemacetan panjang,” kata Hendri. 


Mengenai moda transportasi yang digunakan, 40,4% responden berencana menggunakan kendaraan pribadi. Perinciannya 27,9% menggunakan mobil pribadi, 10,2% sepeda motor, dan 2,3% mobil sewaan. Sisanya menggunakan moda transportasi umum yang didominasi pesawat (19%), kereta eksekutif (10,4%), bus ekonomi (9,9%). Di Istana Kepresidenan, Sekretaris Kabinet Pramono Anung menyatakan persiapan mudik sudah matang. ”Mudahmudahan bisa berjalan lebih baik dari tahun kemarin,” kata Pramono. 


Pemudik Padati Terminal 


Memasuki H-9 kemarin, sejumlah terminal bus, bandara, dan stasiun mulai dipadati para pemudik. Keramaian penumpang antara lain terlihat di Terminal Kalideres, Jakarta Barat. Pengelolaterminalmencatatada 125 bus yang diberangkatkan dengan berbagai tujuan. 


Kepala Terminal Bus Kalideres Revi Zulkarnain mengatakan, mengantisipasi membeludaknya penumpang, pihaknya telah menyiapkan berbagai macam peningkatan fasilitas. Di antaranya menambah ruang tunggu penumpang, ruang ibu menyusui, ruang istirahat sopir hingga penambahan toilet. Peningkatan pemudik juga terlihat di Stasiun Pasar Senen dan Stasiun Gambir. 


Sejak H- 14 hingga H-10, Daerah Operasional (Daop) 1 PT KAI mencatat sudah memberangkatkan lebih dari 29.787 pemudik melalui 52 KA reguler dan satu KA fakultatif. Perinciannya 7.189 penumpang di Stasiun Gambir dan 21.648 penumpang di Stasiun Pasar Senen. Adapun penumpang di stasiun lainnya 950 orang. Di Purwokerto, Jawa Tengah, peningkatan kedatangan pemudik mulai terasa. 


Jumlah penumpang yang turun di Stasiun Purwokerto pada H-10 tercatat 3.526 orang atau meningkat sekitar 144% dari tahun sebelumnya yang sebesar 2.450 orang. Adapun di Stasiun Kutoarjo sebanyak 3.162 orang atau meningkat sekitar 138% dari tahun sebelumnya yang sebanyak2.286orang.” 


Jumlahpenumpang pada hari-hari biasa yang turun di Stasiun Purwokerto rata-rata 2.600 orang, sedangkan di Stasiun Kutoarjo rata-rata 1.600 orang,” papar Manajer Humas PT KAI Daop 5 Purwokerto Surono. Di Klaten, Kepala Stasiun KA Klaten Tulus Joko Mulyono mengemukakan, lonjakan penumpang terpantau sudah terjadi sejak akhir pekan kemarin. 


Penumpang yang turun di Stasiun Klaten meningkat 22% dari hari biasa. Penumpang yang turun di Klaten umumnya berasal dari kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Tulus memperkirakan puncak mudik di Stasiun Klaten terjadi Sabtu-Minggu (2-3) Juli karena cuti bersama libur Lebaran dimulai 4 Juli dan hari terakhir masuk kerja pada 1 Juli. 


Di Bandara Soekarno- Hatta, Tangerang, PT Angkasa Pura II menyatakan peningkatan penumpang sudah mulai terjadi sejak H-12 Lebaran Jumat (24/6). Senior General Manager Bandara Internasional Soekarno-Hatta, M Suriawan Wakan, mengatakan penumpang Lebaran 2016 Bandara Soekarno-Hatta pada H- 12, ada 68.955 penumpang domestik yang berangkat. 


Angka tersebut lebih besar ketimbang jumlah keberangkatan penumpang domestik H-12 Lebaran tahun 2015 yang hanya 48.154 orang. Menurut data pergerakan penumpang, jumlah keberangkatan penumpang domestik pada H-11 Lebaran tahun ini mencapai 67.009 orang, lebih banyak daripada H-11 Lebaran tahun 2015 yang hanya 60.012 orang. 


Manajemen Bandara Soekarno-Hatta memprediksi, puncak arus mudik di sana akan jatuh pada H-2 Lebaran. Sementara di Pelabuhan Merak, Banten, pemudik baik yang menggunakanroda duamaupun roda empat mulai banyak terlihat. Meski demikian, dari pantauan kemarin, belum sampai ada penumpukan penumpang. Di Ngawi, petugas telah mengantisipasi kemacetan di jalur provinsi Caruban-Wilangan. (Adm)



Sumber, koransindo





No More Posts Available.

No more pages to load.