SDA WATCH Menggugat !!! …….

oleh -

Foto; Direktur SDA WATCH (Sebelah Kanan Kedua/Berjaket)  Bersama Pendukungnya (Art/17/6/2016)

PALEMBANG, SriwijayaAktual.com – Dugaan Perampasan Tanah (Konflik Agraria & SDA) dan penipuan yang dilakukan
PTPN VII beringin dari tahun 1983 – Sekarang kepada masyarakat Desa
Sumber Mulya, Pagar Dewa, di Kecmatan Rambang Lubai Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan, dengan lahan berkonflik seluas 1.414 Hektar, telah memakan korban kriminalisasi sampai berkali-kali.”Katanya.

Konflik bermula ketika PTPN VII Beringin masuk ke Desa Pagar Dewa dan
Sumber Mulya tahun 1983, memaksa petani menyerahkan tanahnya dengan
berbagai cara :

“Pernyataan Pak Arsah Bin Serah yang menjabat penasehat/tokoh masyarakat
Persatuan Masyarakat Pribumi Lubai yang juga adalah salah satu  korban dari
kebrutalan PTPN VII Beringin. Tahun  1974 masyarakat desa Sumber Mulya
dan Pagar dewa hidup tentram dengan bertanam sayur-sayuran, bersawah
padi dan berkebun ubi. Lahan yang secara turun menurun sampai beberapa
generasi betul-betul dimanfaati oleh masyarakat guna menghidupi anak
beserta istri dan keluarga.” Urainya Direktur Sumber Daya Alam WATCH (SDA WATCH) Dedek Chaniago, kepada rombongan wartawan di Palembang, Juma’t (17/6/2016).

Artikel Menarik Lainya!:   OPPO Gallery Jambarkan Interaksi Nyata Manusia dan Teknologi

Lanjutnya dedek, bukti sejarah bahwa masyarakat pernah menggarap lahan tersebut secara turun temurun adalah: Pertama  ada tanaman lain selain tanaman perusahaan yang ditanam masyarakat, Kedua terdapat makam leluhur ditengah kebun perusahaan dan Ketiga masih adanya pemukiman warga didalam areal perkebunan.

“Namun semenjak perusahaan masuk dengan iming-iming janji dan intimidasi,
kemiskinan terjadi di desa setempat, karena lahan yang dimiliki kini
habis dan tak cukup untuk menghidupi anak-anak beserta istri. Bahkan
rumah dan lahan 2 hektar yang diberikan oleh perusahaan harus di angsur
sampai dengan 7 tahun ketitika setiap panen karet lewat program
plasmanya. Dan yang mendapat program itu hanya orang 200 kk dari 700 kk
desa Sumber Mulya dan Pagar Dewa”ujarnya.

Sementara itu, Rismaludin Pimpinan Petani Desa Pagar Dewa yang saat itu  memimpin masyarakat untuk
melawan dan mengambil tahan dia kembali. Tahun 2000, ketika pemerintahan
rezim Orde Baru tumbang. Masyarakat mendatangi kades, camat, bupati dan
langsung ke PTPN VII beringin, tetapi tidak ada juga tanggapan, hanya
secarcik kertas surat dari bupati Muara Enim dengan No: 593/2097/I/2000
tentang permasalah lahan agar segera di selesaikan.

Artikel Menarik Lainya!:   PPATK Laporkan Kepada Presiden RI, Terhadap Potensi Pajak Yang Belum Ditindaklanjuti

“Namun pihak perusahaan tak juga mau menyelesaikan persoalan itu,
akhirnya tahun 2003 masyarakat melapor ke lembaga Ombusman Nasional, BPN
RI, tapi hanya balas berbalas surat dan tidak ada tindak lanjut
penyelesaiaan kongkrit.Tanggal 9 Agustus 2006, masyarakat Desa pagar
Dewa dan Sumber Mulya mengirim kembali sutar kepada Bupati Muara Enim
prihal kebohongan pihak perusahaan PTPN VII Beringin yang tak juga
menepati janjinya soal plasma dan bantuan yang lainnya seperti surat
yang terlampir, tapi tetap juga tidak ada realisasinya.”Jelasnya.

Dedek menambahkan, melihat persoalan tidak juga di tuntaskan, maka tahun 2012, masyarakat
desa Sumber Mulya dan Pagar Dewa di pimpin Rismaludin memutuskan untuk
Aksi Reklaiming di lokasi Perkebunan PTPN VII Beringin Afdiling III dan
V. Dan akhirnya 2 oarang masyarakat di kriminalisasi dan di jebloskan
penjara selama 2 tahun dengan sesampai habis masa tahanan, tahun 2015
mereka turun lagi ke lahan, lagi dan lagi  Rismaludin di jebloskan ke penjara,
dengan tuduhan pengancaman, padahal faktanya, Rismaludinlah yang di
keroyok oleh pihak preman dan karyawan PTPN VII Beringin.  Akhirnya
Rismaludin dihukum oleh hakim di penjara 1 tahun lagi.”Bebernya.

Artikel Menarik Lainya!:   Kebijakan Pemerintah Terkait WNA di Indonesia Terburu-buru dan Tanpa Perhitungan Cermat

Sementara  pada tahun  2016 setelah selesai masa hukuman, ketika keluar dari lapas, hari
itu juga Rismaludin di jemput lagi dan di jebloskan di penjara Polres Muara Enim, dengan tuduhan percobaan pencurian. Namun pada bulan April,
melalui pendamping hukum FDR, Rismaludin berhasil mendapatkan penagguhan
penahanan. “Sampai sekarang pun, konflik belum terselesaikan.Keluhnya Dedek didampingi Rismaludin serta bersama bersama perwakilan pendukungnya, yakni: Sarekat Hijau Indonesia (Sudarto marelo), Mahasiswa Hijau Indonesia
(Rani Nova riani), RepDem (Achmad Sazali) dan kantor hukum FDR.”Terangnya.

“Berharap Pemerintah atau instansi terkait untuk turut membantu menyelesaikan permasalahan ini, kasihanilah warga sekitar desa tersebut, atau bahkan bila perlu menggugat kasus ini akan dilaporkan langsung kepada Presiden RI Joko Widodo.”Tandasnya. (Art)

No More Posts Available.

No more pages to load.