Rizal Ramli Sebut Selama Ini, Kapal Pesiar Asing Susah Sekali Masuk RI. Mengapa Demikian?

oleh -
Foto/Ist; Kapal Pesiar Artania

JAKARTA, SriwiajayaAktual.com -Kemudahan-kemudahan dalam regulasi terus diberikan pemerintah untuk
menarik wisatawan asing yang berlibur dengan menggunakan kapal pesiar (cruise) dan kapal layar (yacht).

Hal
ini juga menjadi salah satu fokus Kementerian Koordinator Bidang
Kemaritiman dan Sumber Daya demi mendukung pariwisata maritim yang saat
ini juga menjadi visi pemerintah yang memusatkan pondasi negara pada
poros maritim.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber
Daya, Rizal Ramli mengatakan bahwa salah satu yang selama ini sulit
untuk mengundang kapal pesiar mewah masuk ke Indonesia adalah masih
adanya pemberlakuan sistem CAIT (Clearance Approval for Indonesian
Territory) yang dirasa terlalu administratif.

“Selama ini untuk masuk ke Indonesia susah sekali karena ada sistem CAIT. Yaitu suatu sistem yang sangat mengandalkan security tapi membuat para turis sulit untuk datang ke Indonesia termasuk kapal cruise, yacht. Itulah yang menjelaskan kenapa ratusan kapal cruise
mampir di Malaysia, Singapura, Thailand, dan hanya sedikit yang mampir
di Indonesia,” katanya dalam paparan di Ruang Badan Anggaran Gedung
DPR/MPR RI, Jakarta, Senin (13/06/16).

Artikel Menarik Lainya!:   Manfaat Buah-Buahan Untuk Kecantikan Kulit Dan Wajah

CAIT merupakan izin masuk bagi kapal wisata asing seperti yacht dan cruise.
Pemerintah melalui Kemenko Maritim dan Sumber Daya berencana
menghapuskan sistem ini dan diganti dengan yang lebih berlandaskan IT based.

“Kami memutuskan untuk menghapuskan CAIT untuk menggunakan pendekatan security yang lebih IT based untuk mendetect
masalah-masalah keamanan, tapi tidak menggunakan pendekatan yang
terlalu administratif lagi, hanya bikin sulit sehingga butuh waktu empat
bulan untuk kapal cruise masuk, dan sekarang itu kurang dari 5 hari online. Yacht
juga, butuh waktu mingguan, sekarang kurang dari 24 jam. Sekarang sudah
banyak mulai mendaftar untuk bisa masuk ke Indonesia, mendukung
pariwisata maritim,” tambahnya.

Artikel Menarik Lainya!:   Apa Saja Sich .... Jokowi Tandatangani 7 Kesepakatan Kerjasama dengan Korsel?

Sementara itu, untuk mendukung
bertambahnya jumlah wisatawan yang notabene menjadi sumber devisa
negara, Rizal mengatakan pemerintah mencoba untuk melakukan pembebasan
visa. Langkah ini pun dirasa cukup kontroversial.

“Pada waktunya kami akan melakukan selective review hasilnya dan manfaatnya, kalau memang ada trouble kami akan lakukan koreksi. Tetapi secara umum pembebasan visa ini manfaatnya sangat besar,” tandasnya.

Rizal
mengatakan bahwa adanya pembebasan visa, jumlah visa bisa mencapai
target, karena itu akan meningkatkan jumlah turis dari angka 10 juta
menjadi 20 juta dalam 5 tahun mendatang. Ini juga dapat meningkatkan
devisa negara dua kali lipat dari US$ 10 miliar ke US$ 20 miliar.

Artikel Menarik Lainya!:   ASTAGA !!! ... Eling To Mbah, Demi Anak, Ibu-Ibu Lanjut Usia Ini Selundupkan Pil Karnopen ke Lapas

“Sektor
turis dalam 5-10 tahun yang akan datang akan menjadi sektor yang
menghasilkan devisa nomor 1 di Indonesia, mengalahkan sektor migas
maupun sawit. Tapi itu hal yang biasa, negara Spanyol, Italia, Uunani
besar dari sektor pariwisata,” tutupnya. (Adm).

Sumber, Detikfinance

No More Posts Available.

No more pages to load.