Pria Ini Hidup di Gubuk Kecil Berlantai Tanah Bersama Dua Anaknya dan 2 Ekor Kambing

oleh -47 views

#Malam Diterangi Lilin, Tidur Beralas Tikar Kusam &  Namun Berduka Anaknya Yang Satunya Meninggal Dunia Kecelakaan Ditabrak Kendaraan

Gubuk milik Pujo yang digunakan tidur dan aktivitas lain

PONOROGO-JATIM, SriwijayaAktual.com Kota Reyog Ponorogo terkenal akan lumbungnya Tenaga
Kerja Indonesia (TKI). Bahkan devisa tertinggi dari negara tetangga se
Jawa Timur ada di Ponorogo.

Namun, siapa sangka, tidak semua TKI
asal Ponorogo hidup keluarganya sejahtera. Pemkab Ponorogo pun seolah
lepas tangan dengan TKI-TKI yang menyumbang pajak terbesar tersebut.

Baru-baru
ini, dunia maya viral dengan meninggalnya Miftahul Dwi Khasanah (13)
karena kecelakaan maut di Jalan Batoro Katong. Tragisnya, Miftahul
meninggal saat di tengah-tengah dilakukan upaya medis.

Menjelang
hembusan nafas terakhirnya, ABG cantik tersebut hanya ditemani sang
ayah, Pujo Kastowo (46) dan sang adik. Ibunya Samini Indrawati (36) bak
hilang ditelan bumi. Bekerja sebagai TKI ke Malaysia. Tapi tak pernah
pulang.

Memilukan. Kata itu yang tepat menggambarkan kondisi Pujo
Kastowo. Pria asal Kertosari, Babadan itu sehari-hari tinggal di sebuah
gubuk beralas tanah bersama dua anaknya. Di gubuk itu, Pujo dan
keluarga hidup satu atap dengan dua ekor kambing. Tepatnya di belakang
gedung juang 45, Jalan Batoro Katong, Kelurahan Kertosari, Kecamatan
Babadan.

Pria yang mengalami gangguan penglihatan itu kini
tinggal bersama putra bungsunya yang masih berusia sepuluh tahun. Karena
sang istri masih bertahan di Malaysia.

Rumah kerabat Pujo
Kastowo, di Jalan Batoro Katong, Kertosari, Babadan mendadak sangat
ramai. Mulai pagi tadi tampak puluhan orang hilir mudik menuju rumah
tersebut. Maklum, rumah kerabat Pujo dijadikan rumah duka oleh keluarga
Pujo, pasca meninggalnya putri Pujo, Miftakul Dwi Khasanah.

Sebab,
rumah Pujo dipandang tidak layak dijadikan rumah duka. Hanya gubuk
empat meter persegi, beralas tanah dan ada dua ekor kambing yang hidup
di dalamnya. Namun, para pelayat juga  menyempatkan diri menengok rupa
tempat tinggal Pujo yang memprihatinkan itu.

Sebelumnya, Mifta
–sapaan Miftakul Dwi Khasanah– meninggal Rabu (26/10/2016), lantaran
terlibat kecelakaan lalu lintas kala dia mengayuh sepedanya sepulang
sekolah. Mifta yang usai mengantarkan temannya sepulang sekolah itu,
tiba-tiba digasak seorang pelajar yang mengendarai sepeda motor, kala
melintas di Jalan Batoro Katong. Mifta tak sadarkan diri.

Selasa
(25/10/2016), pukul 22.00, Mifta dilarikan ke RSU dr Soedono Madiun
untuk dioperasi. Sayangnya, Rabu dini hari, Mifta mengembuskan napas
terakhir karena pendarahan hebat.

“Gangguan penglihatan ini sudah
cukup lama saya alami. Sejak saya masih tinggal di Madiun sepuluh tahun
lalu,” ujar Pujo mengawali perbincangan seperti dilansir laman  beritajatim, Jumat
(28/10/2016) pagi.

Pujo menceritakan, gangguan penglihatan yang
dialaminya terjadi karena kecelakaan kerja. Suatu ketika saat masih
bekerja menjadi kuli bangunan, kepalanya tertimpa runtuhan dinding.
Selain pendarahan, efek lainnya turut dirasakan Pujo. Penglihatannya
menjadi semakin kabur.

Saat sudah semakin parah, Pujo kembali
memeriksakan kondisinya. Saat diperiksa, terungkap bahwa dia mengalami
pelemahan saraf mata, dampak kepalanya tertimpa bata.

Menurut
Pujo, terakhir minus di kedua matanya mencapai minus 11 dan minus 12.
“Menurut dokter, di mata saya juga ada katarak,” terangnya.

Saat
itu, Pujo masih tinggal di rumah istrinya, Samini Indrawati, warga
Wungu, Kabupaten Madiun. Mereka baru pindah ke Ponorogo sejak Mifta
beranjak TK, sekitar delapan tahun lalu.

Di Ponorogo, Pujo
boyongan bersama istri, Mifta, dan adik bungsunya, Jopi Muhammad Zamkas,
yang kini masih berusia delapan tahun. Di Ponorogo, Pujo tidak memiliki
tempat tinggal tetap.

Terkadang dia menumpang tidur di rumah
kerabat, terkadang membawa keluarganya tidur di poskamling. Agaknya,
kondisi memprihatinkan itu membuat istri Pujo, Samini, membantu
perekonomian keluarga dengan menjadi TKW di Malaysia, mulai 2008.
Sayangnya sejak saat itu hingga sekarang, Samini menghilang. “Tidak
pernah ada kontak sama sekali dengan keluarga di sini,” jelasnya.

Selama
berpindah tempat tinggal itu, Pujo mengandalkan pekerjaan mencari
rumput untuk pakan ternak, dan memijit. Namun, pekerjaan memijit tidak
dilakukan saban hari. Kadang, hanya dilakukan seminggu sekali.

Suatu
ketika, Pujo mendapatkan pemberian berupa atap bekas dari salah seorang
kerabat. Karena mendapatkan bantuan atap itu, dia pun memutuskan
membangun gubuk kecil-kecilan tak jauh dari rumah seorang kerabat di
Jalan Batoro Katong. “Karena mendapat bantuan atap itu saya memutuskan
membangun gubuk itu sebagai rumah,” terangnya.

Gubuk itu pun
menjadi tempat tinggal bagi Pujo dan kedua anaknya. Setiap sore, Mifta
biasanya membeli dua buah lilin sebagai penerang untuk dia belajar.
Sebuah bangku panjang dari bambu digunakan Mifta dan Jopi untuk tidur di
malam hari.

Sementara Pujo, tidur beralas tikar kusam di atas
tanah. Kini, keseharian itu berubah. Mifta tidak lagi bisa membeli lilin
tiap menjelang malam. Pujo hanya berharap, istrinya bisa kembali
pulang. “Kalau memang ada kesempatan, ya saya berharap supaya bisa
bertemu. Anak juga mengharap ibunya pulang,” ujarnya. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.