Pelabuhan Boombaru IPC Pelindo II Palembang (Bagian Pertama dari dua Tulisan), Kapal Panjang 162 Meter Masih Bisa Bongkar Muat di Boombaru

oleh -

Pelabuhan Boombaru IPC Pelindo II Palembang (Bagian Pertama dari dua Tulisan), Kapal Panjang 162 Meter Masih Bisa Bongkar Muat di Boombaru

Pelabuhan Boombaru yang mengandalkan Sungai Musi masih sangat berperan. Sungai Musi sebagai urat nadi ekonomi masyarakat Sumatera Selatan, masih sangat dibutuhkan. Sementara Pelabuhan Tanjung Api-api, masih belum juga kelar, kenyataannya Boombaru masih strategis memberikan harapan. Sejarah panjang dari kejayaan Kerajaan Sriwijaya, Sungai Musi merupakan alur urat nadi ekonomi. Sungai Musi yang panjangnya sekitar 700 kilomater dan lebar 200 meter, menjadi salah satu pendorong maju pesatnya kota Palembang. Bahkan menjadi pusat perdagangan terpenting di Asia Tenggara.

REDAKSI koran dan media onlineEXTRANEWS berkesempatan mengunjungi Pelabuhan Boombaru atas undangan dari IPC Pelindo II Palembang di Boombaru, Selasa (1/9) 2020. Bukan hanya mengikuti sharing dengan manajemen IPC Pelindo II, Extranews beserta insan pers lainnya diajak ke lokasi Pelabuhan. Saat itu,  baru saja sandar sebuah kapal besar dari PT SPIL yang panjang kapal mencapai 162 meter. Extranews langsung bertemu dengan nakhoda kapal Sutopo, di tengah-tengah aktivitas bongkar muat. Menurut Sutopo, kapal komersil yang dibawanya ini mengangkut peti kemas dari Pelabuhan dalam negeri. “Kebetulan saat ini membawa komoditi semen dan mencapai 110 peti kemas,” ujar Sutopo. Karena baru pertama kapal besar dengan panjang 162 meter yang membuktikan bisa sandar dan bongkar muat di IPC Palindo II Palembang, pada kesempatan itu  General Managert IPC Pelindo II Palembang Silo Santoso, menyerahkan sertifikat apresiasi kepada nakhoda kapal Sutopo dan memberikan buah tangan berupa paket buah-buahan  kepada anak buah kapak (ABK). Menurut Silo Santoso, yang baru saja menempati sebagai General Manager  di IPC Pelindo II Palembang, mengatakan, dengan kerja sama IPC Palembang dan  PT SPIL yang notabene untuk menerima kapal dengan LoA 150 M2 sampai dengan 170 M2 sehingga berdampak pada kecenderungan membuat kapal – kapal lainnya mengikuti trend tersebutKeberadaan Pelabuhan Boombaru Palembang (IPC II Palembang) tidak bisa dibantah sebagai roda  penggerak distribusi produk unggulan Sumatera Selatan berupa karet, sawit, kelapa, kopi, dan produk perikanan dikirim dan dijual ke pasar, baik global maupun lokal. Dalam setahun total 1,5 sampai 1,8 juta ton yang keluar pelabuhan boombaru Palembang.Salah satu anak perusahaan PT. Pelindo II, IPC II Palembang salah satu IPC pertama yang menerapkan SNI ISO 9001:2015 (disertifikasi oleh Sucofindo tahun 2018), selain telah mendapat sertifikasi ISPS International Ship and Port Security (ISPS Code) yang mengacu pada code yang diterbitkan oleh IMO (International Maritime Organization) dan sertifikasi OHSAS 18001. IPC II Palembang merupakan pelabuhan sungai (Sungai Musi) dengan kedalaman draft (kolam sandar kapal) 6-9 meter, seluas 24 hektar, beroperasi selama 24 jam 7 hari yang didukung oleh 149 pegawai yang lebih dari 80% berusia melineal (26-50 tahun). Menurut Santoso, penerapan standar sekaligus keikutsertaan enam anak usaha PT Pelindo II yang tersebar di Kalimantan Barat, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan Bengkulu guna mengawal transformasi PT Pelindo II dan anak usahanya menuju pelabuhan kelas dunia tahun 2020.

Artikel Menarik Lainya!:   Perjuangan Siswa MTs Menjadi Kuli Bangunan demi Beli HP untuk Belajar Daring

 Menurut Santoso, satu terobosan IPC Palembang telah bekerja sama dengan PT Semen Baturaja (Persero) untuk melakukan kegiatan bongkar muat perdana semen baturaja dengan Weekly Service dengan total tonase 1.000 s.d 3.000Selain itu Langkah inovasi IPC Palembang telah menjadi operator di BUP lain di wilayah Banyuasin Palembang untuk mengambil alih cargo–cargo yang tidak masuk ke Pelabuhan Boom Baru.Pengembangan Pelabuhan Boom Baru, jelas Santoso selama ini menjadi penopang kegiatan ekonomi, bahkan tren positif pertumbuhan ekonomi Sumsel karena masih ditopang kegiatan ekspor impor. Santoso menjelaskan, saat ini PC Palembang di Pelabuhan Boombaru memiliki fasilitas terminal penumpang, Dermaga A (Panjang 375 meter, lebar 12 meter dan kedalaman 6 MLWS), Dermaga B (Panjang 130 meter, lebara 18 meter, dan kedalaman  6 MLWS), Dermaga C (panjang 266 meter, lebara 20 metert dan kedalaamn 9 MLWS), dan Dermaga D (Panjang 120 meter, lebar 6 meter dan kedalaman – 9 MLWS). Di antara fasilitas itu, beberapa pelayanan yang dimiliki oleh IPC Pelindo Boombaru Palembang, yaitu pelayanan kapal RoRo (PT PTP), peruntukan Kapal RoRo Jakarta – Palembang – Tanjung Pandan dengan peralatan tererintegrasi dengan sistem inaportnet dan system kepelabuhanan lainnya. Kemudian IPC Pelindo Palembang memberikan pelaytanan non petikemas yang merupakan pelayanan cargo non petikemas. Pelayana ini juga ujar Santoso dengan menggunakan system operasional  berbasis digital, terintegrasi dengan syatem inaportnet dan system operational kepelabuhanan lainnya dan terintegrasi dengan pergudangan lini 1 & 2 dan industry lainnya. Sedangkan pelayanan Petikemas (PT IPC TPK) merupakan pelayanan cargo petikemas dengan sistem operational berbasis digital,  terintegrasi dengan sistem inaportnet dan system operational kepelabuhanan lainnya. Dan juga  terintegrasi dengan pergudangan dan industrilainnya. Begitu pun pelayanan kapal penumpang, merupakan pelayanan kapal penumpang dengan sistem  operational berbasis digital dan  terintegrasi dengan syatem inaportnet dan system operational kepelabuhanan lainnya.Mengapa IPC Palembang menjadi penting dan strategis ? Menurut Santoso, karena IPC Palembang menjadi lokasi strategis untuk Cargo domestik, ekspor dan import dikarenakan Provinsi Sumsel a mempunyai kelebihan,  sebagai daerah area industrial sehingga ekspor dan impor dominan dilakukan di Palembang. Hal ini juga tidak terlepas dari area perkebunan menjadi salah satu penunjang industrial area; cost logistic ke domestic (Bengkulu, Padang, Jambi dan Lampung) lebih murah.Dari paparan Deputi GM Komersial PT IPC Palembang, Darmawi dengan Asisten Deputi GM Komersial, Marlam, dari data traffic kapal – barang selama 2019, unit luar negeri 779 kapal, dalam negeri 3.762 kapal, pelayaran rakyat 225 kapal, kapal negara atau tamu 17 kapal. Sedangkan traffic kapal per GT dari luar negeri 3.354.964, dalam negeri 10.474.896, pelayaran rakyat 70.145, dan kapal negara tamu 14.862.Traffic kapal barang non petikemas salaam 2019, general cargo 259.406 ton, bag cargo 379.954 ton, curah cair 994.083 ton, curah kering 177.016 ton. Sedangkan traffic petikemas selama 2019, 128.808 box dan 145.574 teus. Pada 2020 traffic kapal dan barang hingga Juli 2020, pelayaran luar negeri 393 kapal per unit, pelayaran dalam negeri 2.342 kapal per unit, pelayaran rakyat 106 kapal per unit, kapal negara atau tamu 11 unit. Tahun ini juga traffic barang non petikemas hingga Juli 2020, general cargo mencapai 269.674 ton, bag cargo 191.332 ton, curah cair 497.182 ton, dan curah kering 136.752 ton. Sedangkan traffic barang peti kemas hingga Juli 2020, 57.993 box dan 65.208 teus. (Firdaus Komar)