Minta Dibimbing IMF & World Bank, Sri Mulyani Mengaktualisasikan Kolonialisme…

oleh -78 views
Minta Dibimbing IMF & World Bank, Sri Mulyani Mengaktualisasikan Kolonialisme...

OLEH: ARIEF GUNAWAN

KOLOM PEMBACA-OPINI, Roda DuniawiDPR sejak bernama Volksraad merupakan lembaga kartu mati.

Tak memperluas hak bumiputera di dalamnya. Makanya sejak 1925 ditinggalkan.

Haji Agus Salim menyebutnya:
Komedi Omong.

Sikap DPR yang tidak merespons pernyataan Menkeu Sri Mulyani yang minta dibimbing oleh IMF & Global Financial institution supaya membantu mengelola beban utang RI, bukan cuma membenarkan DPR kartu mati.

Tetapi juga ahistoris karena menutupi sejarah kelam perekonomian Indonesia saat berurusan dengan IMF & Global Financial institution pada tahun 1998.

Saat itu Indonesia bukannya keluar dari krisis moneter, tapi malah terjerumus ke jurang krisis, hingga memicu kerusuhan politik & keamanan.

Artikel Menarik Lainya!:   Atasi Banjir Jakarta Pakai Karung Bekas Beras, Anies Baswedan Dihujat Habis-habisan

Soeharto, 15 Januari 1998, menandatangani perjanjian dengan IMF. Disaksikan Michael Camdessus, yang berdiri puas sambil menyilangkan kedua tangan.

Sikap Sri Mulyani yang minta dibimbing oleh IMF & Global Financial institution ternyata juga paralel dengan karakter penjilat para pejabat bumiputera di generation kolonial, yang suka membungkuk dan mohon petunjuk di hadapan pembesar asing.

Di generation Tanam Paksa mereka menjadi suksesor, dan menjilat Van Den Bosch. Menyapanya dengan sebutan Eyang Romo demi hadiah, pujian, dan naik pangkat.

Makanya dulu Belanda menghina kita “bangsa yang paling lunak di dunia” sehingga Gubernur Jenderal De Jonge yakin, bisa dijajah ratusan tahun.

Snouck Hurgronje juga dibantu para penjilat. Van Mook bikin Negara Boneka juga disokong elite penjilat yang meminta bimbingan.

Artikel Menarik Lainya!:   Bantah Isu, Presiden RI: Tidak Ada Pergantian Panglima TNI

Sikap Sri Mulyani ternyata sama saja. Fungsinya di kabinet selama ini ternyata mengaktualisasikan kolonialisme. Posisinya sebagai Gross sales Promotion Lady (SPG)-nya IMF & Global Financial institution menegaskan perannya itu.

Negeri dan bangsa ini hari ini membutuhkan tokoh kognitariat (pekerja otak) dengan kemampuan drawback solver dan keberanian membela rakyat. Soal-soal ekonomi adalah masalah deadly yang bisa menyeret ke dalam kehancuran multidimensi.

Para pendiri Republik dulu mengajarkan kita kemandirian. Menolak didikte asing.

Dan bangsa yang besar ialah bangsa yang mawas diri yang tidak mengulang kesalahan sejarah yang sama.

Seperti halnya pepatah Latin mengajarkan:
Historia Magistra Vitae, Nuntia Vetustatis.
Sejarah Adalah Guru Kehidupan, Dan Pesan Dari Masa Silam…

Artikel Menarik Lainya!:   Telaga Biru dan Air Terjun Tujuh Tingkat Pesona Wisata Jangkat Merangin yang Paling Menarik dan Menakjubkan

Adakah pemahaman sejarah di benak Sri Mulyani, Menkeu Terbalik yang lebih suka dipuji asing, meski kebijakannya mencekik rakyat sendiri?. [***]

(Penulis Adalah Pemerhati Sejarah)