Mengintip Manula Miskin Dari Sisi Lain

oleh -50 views
Masa Tua Menyedihkan
(Istimewa)
SriwijayaAktual.com – Tidak sulit kita temui di sekitar kita beberapa orang tua di penghujung
ajalnya atau Manusia Usia Lanjut (Manula) masih berkutat dengan kemiskinan. Ada yang menjadi gelandangan,
ada yang menjual abu gosok atau sandal dari ban bekas; jika tak punya
malu, mereka memanfaatkan kelemahan fisik sebagai dalil untuk mengemis.
Bagi para aktivis, fenomena ini akan dianggap sebagai kegagalan
negara mengemban amanah memelihara fakir-miskin. Di mata pegiat
antikorupsi, merajalelanya orang berusia lanjut yang melarat karena
pembiaran praktik korupsi sehingga meyebabkan kemiskinan menjadi
terstruktur. Para filantropis akan memandang bahwa mereka harus berpeluh
demi rupiah karena kita kurang peduli dan kasih kepada mereka.  
Bagi sebagian orang, manula yang masih harus bekerja keras
dijadikan model bahwa kerja keras harus sampai akhir hayat. “Jangan
kalah dengan kakek-kakek, dong,” kata mereka. Kakek tua renta yang
berjualan kerupuk pun banjir pujian.
Semua cara pandang di atas mengandung kebenaran. Orang memang
akan menilai sesuatu berdasar pada penglihatan yang dimiliki. “Karena
Anda tak melihat Laila dengan mataku,” kata Qais si Majnun kepada raja
yang menghina kecantikan Laila, dalam roman legendaris Laila Majnun.
Sekarang, mari kita melihat dengan mata yang lain. Dari sisi
personal, bernasib malang di usia senja adalah kegagalan memanfaatkan
masa muda, terutama karena tidak memiliki menejemen finansial yang
memadai. Dalam konteks Indonesia, mungkin akan dinilai keterlaluan
menyalahkan kemiskinan orang lanjut usia. Akan tetapi, hal ini perlu
dikemukakan supaya orang sadar sejak dini bahwa masa tua/pensiun harus
disiapkan sejak dini.
Sebagian masyarakat kita masih beranggapan bahwa masa tua tidak
membutuhkan uang karena akan ditanggung atau menumpang pada anak.
Pandangan ini harus diakhiri karena menggantungkan nasib kepada siapa
pun hanya akan membuat diri tidak berharga. Seorang kakek atau nenek
tidak akan berharga di mata cucu jika tidak pernah memberikan permen
atau hadiah.
Jika sejak muda tahu bahwa diri tidak akan mendapatkan
jaminan keamanan sosial dari pemerintah seperti pegawai negeri atau dana
pensiun dari perusahaan tempat bekerja, satu-satunya cara yang harus
dilakukan adalah menabung sejak dini.
Orang-orang tua yang kemelaratannya menguras air mata orang lain
pasti hidup tanpa mempunyai perencanaan, terutama dengan cara menabung.
“Jangankan menabung, makan aja susah,” ujaran yang mudah kita temui.
Orang mengatakan demikian hanya karena menganggap menabung adalah uang
sisa.
Hidup harus realistis: tidak pernah menabur benih, tak usah
berharap memanen. Kesejahteraan bukan datang tiba-tiba seperti dongeng
Aladdin, dan dongeng-dongeng sejenis yang sangat digemari masyarakat.  
Baca Juga Ini; Perjuangan Hidup si Kakek, Penjual Tas Anyaman di Pinggir Jalan “Senyum Ikhlasnya Menyentuh Hati”
Jika ingin selamat dari penderitaan masa tua, mari segera
menabung. Jika tidak akrab dengan sistem perbankan, tabung 10% dari
pendapatan kita di bawah tumpukan pakaian kotor atau di celengan. Berapa
pun jumlah penghasilan, kita pasti bisa hidup dengan 90% pendapatan.
 Yang membuat tidak cukup adalah gaya hidup kita: merokok, makan terlalu
mewah (untuk ukuran orang dengan penghasilan rendah), konsumsi pulsa
terlalu banyak, dan pengeluaran sekunder lain.
Hasil tabungan yang terkumpul dapat dijadikan modal usaha,
investasi, membeli properti, emas, tanah atau hal lain lain yang
sekiranya dapat membuat kita naik kelas secara ekonomi. Menyiapkan masa
tua tanpa perencanaan sangat beresiko terjerumus dalam lembah
kemelaratan, yang merupakan salah satu siksaan paling pedih di alam fana
ini.
Coba kita lihat kaum melarat di jalanan: beribadah tak sempat,
dianggap sampah oleh masyarakat, menjadi buruan petugas ketertiban, dan
menjadi aib bagi pembangunan.  
Mengandalkan pemerintah dan lembaga sosial tidak akan pernah
menjadi pilihan yang tepat. Tuhan sudah membekali kita piranti yang
dengannya kita dapat hidup mulia di dunia hingga masa ketika tiada lagi
bumi. (*)
Sumber, rimanews 

No More Posts Available.

No more pages to load.