Membangun Bisnis Sambil Minum Kopi. uueenAk Ora Coy?

oleh -
Membangun Bisnis Sambil Minum Kopi. uueenAk Ora Coy?
Membangun Bisnis Sambil Minum Kopi. uueenAk Ora Coy?

TEMANGGUNG-JATENG, Roda Duniawi – Keceriaan tergambar dari wajah para wanita ini. Maklum, pagi itu hari pertama mereka kembali bertemu sejak tahun silam. Para wanita ini adalah buruh musiman pemetik kopi pada sebuah perkebunan di Desa Rawa Seneng, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Setelah diabsen mandornya, mereka pun bertolak menuju perkebunan kopi sambil menyandang bakul dan karung.

Jarak antara kantor dan areal perkebunan berkisar dua kilometer. Tanda batas masuk areal kebun kopi adalah sebuah jembatan. Sebelum bekerja, para buruh pemetik kopi ini beristirahat sejenak sambil menyantap bekal makan pagi. Usai sarapan, mereka langsung bekerja memetik buah kopi yang sudah matang. Jika dijangkau mereka tanpa canggung memanjat pohon.

Bunyi peluit mandor menjadi penanda agar para pemetik berkumpul kembali untuk berpindah ke bagian lain kebun. Maklum luas kebun ini 100 hektare dan memang di tempat lain masih banyak buah kopi yang siap dipetik.

Saat matahari sudah berada di atas kepala, mereka kembali ke pabrik. Para buruh petik merasa cukup puas dengan hasil hari itu yang mereka taksir berkisar 30 hingga 50 kilogram. Namun, pekerjaan para pemetik kopi tidak selesai di situ. Mereka masih harus menyotir untuk memisahkan biji kopi muda yang turut terpetik. Seperti yang dilakukan Mbah Purniati dan Mbah Karyiam. Kedua pemetik kopi ini sudah lebih 15 tahun menekuni pekerjaan itu. Bagi kedua perempuan yang sudah berusia 75 tahun ini memetik kopi masih menjadi tumpuan untuk mendapatkan tambahan rupiah.

Artikel Menarik Lainya!:   Komentari Kematian Ustadz Maaher, Novel Baswedan Dilaporkan ke Polisi

Buah kopi yang sudah disortir kemudian diserahkan kepada pengurus perkebunan untuk ditimbang. Untuk setiap kilogram buah kopi, para buruh memperoleh uang lelah Rp 300. Selama satu hari bekerja, mereka biasanya dapat mengumpulkan setidaknya uang Rp 10 ribu. Namun, uang itu baru diambil pada akhir masa petik atau setiap dua pekan.

Minum kopi memang acara yang mengasyikan apalagi dilakukan bersama teman di kedai atau kafe. Bahkan, saat ini ngopi sudah tumbuh menjadi gaya hidup dan sarana membangun bisnis. Seiring dengan perjalanan waktu, minuman beraroma khas ini sekarang hadir dalam berbagai pilihan racikan. Bagi konsumen kehadiran berbagai varian kopi itu tentu menjadi tawaran yang sulit untuk ditolak.

Berbagai kafe atau kedai kopi modern kini bermunculan di mana-mana. Selain menawarkan kopi, kafe-kafe ini juga menangkap keinginan pengunjung untuk menikmati suasananya. Berbagai konsep pun dikembangkan untuk memenuhi selera dan kebutuhan para pecinta kopi. Seperti Kafe House Bali. Untuk membuat pengunjung betah berlama-lama, pengelola melengkapi kafenya dengan buku dan majalah buku tentang kopi, peralatan pembuatan kopi hingga lukisan menggunakan kopi sebagai alat pewarna.

Artikel Menarik Lainya!:   Ayam karamel pedes

Selain kafe yang menawarkan racikan kopi modern, ada juga kedai yang mengkhususkan diri pada racikan tradisional atau yang lebih dikenal dengan kopi tubruk. Ada saja orang yang lebih memilih kopi jenis ini dengan alasan tertentu.

Di Bali memang banyak pecinta kopi. Atas dasar itulah pengelola Kafe Aseupan Sunda memilih menggarap segmen pasar yang tidak digarap oleh kafe modern. Walau terlihat sederhana, harga kopi tubruk tidak selalu lebih murah. Kopi-kopi itu ditawarkan mulai dari beberapa ribu hingga puluhan ribu rupiah per cangkir.

Dibalik kentalnya kopi dan kenikmatan yang ditawarkan ternyata cara penyajian minuman ini membutuhkan keahlian khusus untuk meraciknya. Apalagi masing-masing kopi memiliki cita rasa dan aroma yang khas. Karenanya di berbagai kafe di Jakarta kini wajib memiliki barista atau peracik kopi.

Untuk meracik kopi yang diingini, seorang barista harus memahami kualitas dan bahan pencampur yang pas sehingga takarannya sesuai dengan jenis kopi. Seorang barista bukan hanya dituntut pandai meracik kopi tapi juga harus mahir menggiling biji kopi. Setelah digiling kopi kemudian dihaluskan dengan alat besar.

Lain lagi dengan warga Rembang, Jawa Tengah. Warga di daerah ini mempunyai cara tersendiri dalam menikmati kopi tak sekadar menyeduhnya dan menjadikan minuman. Mereka menikmati kopi dengan cara mengoleskan endapan kopi ke batang rokok untuk kemudian dihisap. Warga Rembang menyebut kopi ini sebagai kopi lelet.

Artikel Menarik Lainya!:   Sayur Daun Singkong Teri yang Mantap dan Nikmat

Warung kopi lelet sangat mudah ditemukan di kota ini. Di setiap warung ini biasanya akan ditemukan kesibukan orang yang mengoleskan endapan kopi ke batang rokok. Tidak sembarang orang bisa melakukannya karena diperlukan ketelitian ketelitian sehingga batang rokok tidak patah. Setelah kering barulah paduan rasa kopi dan rokok bisa dinikmati.

Lelet berasal dari bahasa Jawa yang berarti mengoles. Kopi lelet populer sejak 1990-an. Warung kopi lelet kini tak hanya bisa ditemukan di Rembang tapi juga di kota-kota lain, seperti Pati, Blora bahkan hingga Kota Tuban, Jawa Timur.

Popularitas kopi lelet menjadi berkah tersendiri bagi penjualnya. Sebagaimana yang dirasakan Hadi Warsono, pemilik warung kopi lelet Den Baguse di Jalan Senawi, Rembang. Setiap hari pekerja di warungnya menggoreng sedikitnya 20 kilogram kopi mentah untuk kemudian diolah menjadi dua setengah kilogram kopi bubuk.

Bahan kopi lelet biasanya kopi pilihan. Kopi mentah yang diolah harus digiling berkali-kali sehingga menjadi kopi yang benar-benar halus. Setelah halus barulah kopi digunakan untuk bahan kopi lelet. (Lip6)