Mahmud Mulyadi, Dosen Pidana Berambut Jambul" Gaul, Cerdas, & Unik

oleh -

*Seorang pejabat Kementerian Hukum dan HAM pernah memujinya. Penampilannya berubah berkat dorongan isteri.
Foto/Ist; Dr. Mahmud Mulyadi (Kemeja Biru) di tengah beberapa dosen hukum pidana.

SriwijayaAktual.com – Datang dengan penampilan agak nyentrik, seorang pria menonjol dengan
rambutnya yang seperti bergaya Mohawk, disisir rapi ke atas. Sepatunya
lancip dan mengkilap, celana jeans yang dikenakannya berpadu dengan
kemeja bermotif dengan warna terang. Di jemari tangannya melingkar
beberapa cincin batu akik, dan di lehernya menggantung kalung berbatu
besar.

Penampilan yang nyentrik di tengah puluhan akademisi dan praktisi hukum
pidana di Banjarmasin, pertengahan Mei lalu, ini tak lantas membuat
pria bergaya nyentrik itu risi. Ia bahkan terbilang sangat ramah dan
bisa cepat akrab kepada setiap orang yang bertemu. Dengan para guru
besar hukum pidana yang hadir di perhelatan itu pun pria asal Palembang
itu tampak dekat, meskipun usia mereka berbeda.

Dan ketika Guru Besar Hukum Pidana Universitas Indonesia, Harkristuti
Harkrisnowo, bertemu, yang keluar adalah sapaan yang terkesan akrab.
“Hai, Jambul,” seru Prof. Harkritusi. Yang disapa pun langsung menyalami
dan mencium tangan sang profesor.

Pria nyentrik yang bertemu Prof. Harkristuti itu adalah Mahmud Mulyadi.
Datang jauh-jauh dari Medan, Sumatera Utara, ke Banjarmasin Kalimantan
Selatan, Mahmud tak sedang plesiran. Meski berpenampilan nyentrik, acara
yang dihadiri Mahmud justru terbilang serius: Simposium Nasional
dan Pelatihan Hukum Pidana dan Kriminologi III. Pesertanya pun
akademisi dan praktisi. Sejumlah guru besar ternama hadir di acara yang
dihelat Masyarakat Hukum Pidana Indonesia (Mahupiki) dan Fakultas Hukum
Universitas Lambung Mangkurat itu.

Artikel Menarik Lainya!:   Gunung Gamalama Meletus, Bandara Sultan Baabullah Ternate Ditutup Sementara

Mahmud memang bagian dari komunitas akademisi hukum pidana. Kini, pria
peraih gelar doktor ilmu hukum dalam usia 31 tahun itu berstatus sebagai
staf pengajar hukum pidana di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
(FH USU) Medan.

Di forum pertemuan ilmiah itu, tak hanya tampilan nyentrik Mahmud yang
menonjol, tetapi juga keaktifannya dalam diskusi. Setiap ada sesi tanya
jawab, ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan tajam dan kritikal, disertai
dalil yang kuat. Termasuk mengutip ayat-ayat al-Qur’an ketika bicara
tentang pidana adat atau konsep restorative justice.

Meskipun acapkali mengajukan pertanyaan dan pernyataan kuat, rambut
Mohawknya tetap menjadi hal yang paling menarik perhatian peserta lain,
bahkan menjadi bahan guyonan. Kebetulan, Ketua Panitia Simposium dan
Pelatihan, Syaifuddin, berkepala plontos. “Susah jadi Mahmud itu. Mau
berpenampilan saja, dia perlu ke salon dulu untuk membentuk rambutnya.
Enaklah seperti saya. Tidak perlu disisir,” kata Syaifuddin berkelakar.

Rambut jambul Mahmud sebenarnya baru dibentuk pada 2011. Kala itu,
Mahmud bercerita, sang isteri mengatakan bosan melihat penampilan sang
suami. Lantaran ingin sang suami punya tampilan berbeda, isterinya
membawa Mahmud ke salon. Di sinilah rambut Mahmud dibentuk. Apa daya,
Mahmud tak mungkin menolak permintaan istrinya. “Bisa bahaya kalau
ditolak,” ucapnya seperti dilansir Hukumonline.com (13/6/2016).

Artikel Menarik Lainya!:   Jadi Jubir Kampanye Ahok-Djarot, Ruhut: Aku Akan Siap Mundur dari Anggota DPR

Penampilan baru itu bukan tanpa masalah. Paling tidak, bagaimana
menjelaskan kepada civitas akademika FH USU, dan yang terpenting kepada
mertuanya. Apalagi ia segera pulang kampung ke Palembang. “Ya takutnya
kan kalau melihat saya begini, mertua mikir saya sedang puber kedua.
Nanti beliau khawatir kalau saya pacaran lagi terus anaknya
ditelantarin. Tetapi kemudian istri bilang masalah ayah itu biar dia
saja yang urus. Dan memang sampai sekarang tidak pernah bertanya ayah
mertua itu,” tuturnya.

Tidak ditanya oleh mertua di rumah, pria yang lahir 41 tahun lalu ini
justru kena tegur seniornya di kampus, termasuk Guru Besar Emeritus M.
Solly Lubis. Guru Besar Hukum Pidana FH USU, Alvi Syahrin,
sempat menasihati Mahmud karena dipikir koleganya itu mengubah
penampilan karena sedang berpacaran lagi. Berdalih menghormati senior,
Mahmud mengaku mengangguk saja dinasihati Profesor Alvy. “Saya memang
pacaran lagi, ya sama istri saya,” ucap Mahmud terkekeh.

Beda orang beda cerita. Oleh muridnya Mahmud malah dilarang
berpenampilan rapi seperti dosen kebanyakan. Mahasiswa pernah bertanya
apakah ia sedang “sakit” saat datang ke kampus dengan celana bahan.
Mereka bilang, ‘Nggak cocok Pak, balik pakai jeans sajalah,’ cerita
Mahmud.

Meski begitu, sesekali ada juga mahasiswa yang bertanya mengapa sang
dosen pidana bergaya ala anak muda. Mahmud dengan kesederhanannya
beralasan karena di usia mahasiswa ia tidak memiliki cukup fasilitas
untuk berpenampilan semuanya. Kalau sekarang Alhamdulillah sudah  bisa
untuk ke salon, lanjutnya.

Artikel Menarik Lainya!:   Saksi Bisu Alas Purwo, Dalih Sewa Dua Gadis Belia, Lima Pemuda Haus Nafsu' Beruntun Memperkosanya Secara Bergiliran !!!

Mahmud meraih gelar SH-nya dari FH Universitas Sriwijaya pada tahun
1998. Saat ada kesempatan melanjutkan S2 dan S3 di FH USU dengan
beasiswa penuh, ia pun tidak melewatkannya. Duduk di bangku magister
mulai tahun 1999, dua tahun setelahnya ia langsung melanjutkan program
doktor.

Beasiswa yang ditawarkan oleh FH USU bekerja sama dengan FH UI ini
jugalah yang mengantarkannya menjadi dosen di tahun 2002. “Memang untuk
itulah program beasiswa ini dibuat. Jadi ada ikatan dinas istilahnya.
Ketika mendaftar untuk S2 dan S3 itu, satu paket dengan kita mendaftar
menjadi tenaga pengajar di USU,” ujar Mahmud.

Sekarang, pria yang berangkat merantau dari sebuah desa di tepian
sungai Musi itu pun sudah kerasan dengan hidupnya di Medan. Ia pernah
diajak untuk balik ke Palembang, tetapi suasana di Medan telah
membuatnya betah. Di Medan pula ia membuktikan bahwa penampilan nyentrik
tak identik dengan berandal. Di Banjarmasin, dalam Simposium dan
Pelatihan Hukum Pidana dan Kriminologi III, pun Mahmud membuktikan
eksistensi dirinya sebagai akademisi hukum pidana.

Bahkan di Jakarta, dalam suatu seminar nasional, Mahmud bisa menjadi
pembicara sejajar dengan senior-seniornya seperti Prof. Muladi dan
Muzakkir. Dalam seminar di aula Pengayoman Kementerian Hukum dan HAM
itu, Mahmud Mulyadi dipuji seorang pejabat eselon I Kementerian, sebagai
salah seorang tokoh hukum pidana Indonesia masa depan. (Adm).

Sumber, Hukumonline

No More Posts Available.

No more pages to load.