Lima Mitos Tentang Robot Pekerja

oleh -
Lima Mitos Tentang Robot Pekerja
Foto: Dok. Universal Robots

JAKARTA, Roda Duniawi – Dikala ini, Robot Kolaboratif( Cobot) sudah jadi pusat atensi dalam sesuatu modernisasi industri serta pabrik. Di Indonesia, produsen mulai tertarik pada sistem otomatisasi ini. Pabrik- pabrik berencana buat menggunakan kemampuan industri di Indonesia lewat adopsi teknologi otomatisasi.

Dikala teknologi robot serta otomatisasi bertambah, muncullah mitos- mitos serta kesalahpahaman, semacam mungkin teknologi tersebut hendak menggusur manusia serta memperparah efek kerja di pabrik.

Dalam penjelasan yang diterima detiKINET, Darrell Adams, Head of Southeast Asia& Oceania, Umum Robots, menarangkan 5 mitos menimpa robot pekerja.

  1. Cobot Menggusur Pekerjaan Manusia?

Dikala ini cuma 14 persen pekerjaan yang bisa seluruhnya mempraktikkan otomatisasi. Riset Forum Ekonomi Dunia menampilkan kalau pada tahun 2022, robot hendak menghasilkan lebih dari 133 juta lapangan pekerjaan secara global. Tetapi walaupun bagaimanapun, senantiasa tidak hendak terdapat mesin yang dapat mengambil alih ketangkasan, pemikiran kritis, pengambilan keputusan, serta kreativitas manusia. Kala Indonesia tengah bergerak mengarah otomatisasi, penciptaan juga hendak bertambah, serta lebih banyak lapangan pekerjaan dapat diciptakan. Baik laki- laki ataupun perempuan di Indonesia tidak butuh takut jika robot hendak menggusur pekerjaan manusia.

Artikel Menarik Lainya!:   Tingkatkan Kesejahteraan Petani, Wagub Mawardi Dorong Pengembangan Budidaya Pohon Aren di Sumsel
  1. Otomatisasi Robot Diperuntukan buat Pembedahan Skala Besar yang Kompleks

Dikala orang berpikir tentang robot, di dalam benak mereka acapkali terbayang hendak mesin yang besar, yang memproses perakitan serta pengolahan kayu misalnya, yang mengantri buat diolah oleh mesin otomatis. Realitasnya, dengan cobot, industri bisa memakainya buat tugas yang sangat simpel sekalipun.

Terlepas dari skala outputnya, cobot bisa digunakan buat proses yang berulang- ulang, manual, ataupun berpotensi berat untuk pekerja- pekerja manusia, semacam memilah serta menempatkan benda, pengemasan, memasang sekrup, perekatan, pembuangan, serta pengelasan.

  1. Sulit Buat Menjaga serta Melindungi Mesin Robot

Memanglah benar jika terdapat sebagian robot yang berdimensi besar, rumit, serta susah buat dioperasikan. Banyak orang apalagi berkata, perlu gelar seseorang PhD( sarjana S3) buat bisa mengoperasikannya. Tetapi realitasnya, cobot tidak serumit itu.

Cobot gampang sekali dipakai, dioperasikan, serta dipelihara, sebab cobot itu sangatlah simpel, tidak rumit serta tidak butuh mengganti tata letak penciptaan di pabrik dikala digunakan. Cobot gampang buat diprogram serta digunakan kesekian kali, kebutuhan penjaannya juga sangat minimun.

Artikel Menarik Lainya!:   Kumpulan Gambar Kata Mutiara Untuk Pelakor
  1. Cobot Itu Beresiko Untuk Manusia

Robot buatan industri tradisional tidak dapat bekerja dengan manusia secara berdampingan tanpa permasalahan keamanan yang sungguh- sungguh. Diakui, robot tradisional bisa menanggulangi material yang lebih berat serta besar, tetapi robot tersebut memerlukan ruang pengaman sendiri buat melindungi manusia supaya tidak terserang resiko musibah kerja pada dikala difungsikan.

Cobot berbeda dari robot industri tradisional. Cobot terbuat dengan memikirkan keselamatan manusia serta buat kurangi resiko musibah kerja. Cobot dirancang spesial buat bekerja berdampingan dengan manusia, bagaikan pemecahan dengan tingkatan error yang sangat kecil, permasalahan keamanannya pula nyaris tidak terdapat, sebab memanglah cobot telah nyaman, cobot serta manusia bisa bekerja bersama, tanpa butuh ruang pengaman tertentu.

  1. Cobot Itu Mahal

Sesungguhnya mitos ini terdapat benarnya pula, robot itu memanglah terdapat yang mahal. Tetapi tidak buat seluruh tipe robot. Bayaran dini pemasangan cobot umumnya lebih murah daripada robot tradisional, dengan periode pengembalian rata- rata 2 belas bulan saja. Cobot itu hemat bayaran serta murah, cuma butuh investasi yang kecil saja, mengingat jika robot- robot ini tidak membutuhkan penyesuaian infrastruktur yang besar. Tidak semacam robot tradisional, cobot sendiri bisa digunakan kembali buat bermacam guna di jalan penciptaan lain yang sanggup digunakan tiap dikala.

Artikel Menarik Lainya!:   Menkominfo RI Diminta Tidak Revisi Biaya Interkoneksi, Ini Alasanya? ...

Indonesia saat ini ini lagi mengambil strategi proaktif buat senantiasa dapat jadi negeri yang kompetitif di pasar global, dengan mengadopsi sistem otomatisasi. Dikala ini, perusahaan- perusahaan Indonesia lagi bergeser ke masa depan yang didorong oleh teknologi. Otomasi serta manusia tidaklah khayalan belaka, namun hendak bersinambung dengan baik serta nyaman, dengan memakai robot kolaboratif yang gampang buat digunakan untuk manusia. Robot- robot hendak terus tumbuh serta terdapat bersama dengan kita, buat kebaikan bersama umat manusia ke depannya. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.