Kronologi Larangan Pembangunan Masjid Muhammadiyah di Aceh

oleh -
Ilustrasi/Net

BIREUEN-ACEH, SriwijayaAktual.com – Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bieruen,
Athaillah A. Latief, menjelaskan kronologi pelarangan pembangunan masjid
at-Taqwa Muhammadiyah di Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Provinsi
Aceh. Masjid tersebut akan dibangun di atas tanah wakaf pemilik tanah
dan wakaf tunai warga Muhammadiyah Juli Keude Dua, Bireuen.

Keinginan
warga Muhammadiyah Juli ini sudah ada sejak dua tahun lalu dan mulai
terwujud sejak membebaskan tanah seluas 2.500 meter persegi di kampung
Juli Keude Dua. Dimulai dengan membangun balai pengajian, dan akhirnya
membangun masjid.

“Kita mendapatkan donatur yang siap membangun masjid ukuran 20×20
meter persegi, tempat wudhu, rumah imam, dua kelas untuk program
tahfidlul Quran, dengan dana Rp 1 miliar. Kalau berhasil, dijanjikan
akan ditambah dengan klinik,” ujar Athaillah,  dilansir Republika.co.id, Rabu (8/6/2016) malam.

Artikel Menarik Lainya!:   “POROS MARITIM ANTARA WACANA DAN REALITAS”

Masjid
ditargetkan sudah bisa dipakai pada Ramadhan tahun ini. Seluruh warga
Muhammadiyah pun sudah siap membantu fisik dan materi untuk membangun
masjid sesuai rencana. Proses pengajuan izin mendirikan bangunan (IMB)
pun sudah dimulai sejak November 2015.

Dia menyebut, semua persyaratan pembangunan sudah dipenuhi, termasuk
dukungan dari masyarakat yang dibuktikan dengan penyerahan fotokopi KTP
dan tanda tangan minimal 60 orang. Mereka bahkan mengumpulkan hingga 150
orang. Dukungan dari jamaah juga minimal 90 orang, tapi PDM berhasil
mengumpulkan 150 orang.

Rekomendasi untuk keluarnya IMB sudah didapatkan dari keuchik (lurah)
kampung, camat, dan dari Sekda Kabupaten Bireuen untuk izin tata ruang.
Namun, Athaillah mengatakan, rekomendasi pembangunan masjid mulai
tersendat di kantor Kementerian Agama Bireuen.

Artikel Menarik Lainya!:   Sri Mulyani Restui Holding BUMN

Waktu terus berjalan, donatur menginginkan pembangunan bisa segera
dimulai di Januari untuk mengejar selesai di Ramadhan tahun ini. IMB
bisa diselesaikan sambil berjalan. Awal timbul masalah adalah ketika
akan dilakukan acara peletakan batu pertama pembangunan masjid.

Dia bercerita, malam sebelum hari peletakan, datang segerombolan
orang yang mengatasnamakan warga Juli Keude Dua melakukan protes ke
Polsek Juli dan meminta acara tersebut dibatalkan. Jika tidak, akan ada
perlawanan dari masyarakat. “Akhirnya demi kamtibmas kita tidak
menyelenggarakan seremoni peletakan batu pertama, hanya menerima tamu
biasa yang sudah terlanjur kita undang, termasuk dari donatur yang itu
pun mendapat penjagaan ketat dari polisi,” ujarnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.