Ke Mana Jokowi Hendak Bawa Kita?

oleh -
Ke Mana Jokowi Hendak Bawa Kita?
Ilustrasi

Ke Mana Jokowi Hendak Bawa Kita?

Penulis: Abdillah Toha

KOLOM PEMBACA, Roda Duniawi – Saya merupakan seseorang pendukung Jokowi yang oleh sebagian orang dikatakan fanatik. Bisa jadi tidak sangat salah. Semenjak pilpres awal, aku sudah menunjang dia. Sayalah yang membuat tulisan“ 10 alibi mengapa aku memilah (memilih) Jokowi” yang setelah itu jadi viral. Pula tulisan“ 10 alibi kenapa aku tidak hendak memilah Prabowo” pada pilpres selanjutnya.

Aku percaya benar dikala itu kalau memilah (memilih) Jokowi merupakan suatu keputusan yang pas. Baru awal kali dalam perpolitikan Indonesia terdapat seseorang calon Presiden yang betul- betul merakyat, jujur, berasal dari rakyat, bukan dari elite politik ataupun kelompok kekuatan besar lain. Nyatanya itu saja tidak lumayan buat menjadikan seseorang pemimpin yang efisien.

Menyimak bermacam kejadian yang terjalin (terjadi) kesekian pada periode 2 pemerintahan Jokowi yang belum setahun ini, membuat aku jadi kian susah buat membela Jokowi serta berkata kalau Jokowi memanglah ialah opsi pas bagaikan Presiden RI. Tidak berarti kalau apabila waktu diputar kembali ke balik, aku hendak memilah Prabowo.

Kerja serta diamnya Jokowi pada periode kedua ini menimbulkan bermacam persoalan yang tidak terjawab. Mulai dari pemilihan para pembantunya yang tidak pas serta bermutu rendah.

Dini kekecewaan aku merupakan kala pada detik- detik terakhir dia membatalkan Mahfud MD bagaikan calon wakil presiden yang hendak mendampinginya. Kabinet saat ini merupakan kabinet yang tidak cocok dengan janjinya yang katanya hendak lebih banyak menempatkan menteri- menteri handal pada bidangnya.

Posisi kabinet dihadiahkan lebih banyak kepada bermacam kekuatan partai politik pendukungnya dan mereka yang mempunyai senjata. Departemen kesehatan, semisal, dipandu oleh seseorang dokter tentara yang oleh IDI sendiri pernah dipertanyakan keprofesionalannya. Beliaulah antara lain yang jadi pemicu utama terlambat serta berlarutnya penindakan permasalahan Pandemi Covid- 19 di negara ini, kala negara- negara orang sebelah kita sudah menampilkan keberhasilannya.

Dikala bermacam negara lagi padat jadwal mempelajari serta berupaya meningkatkan vaksin corona, sebagian lembaga serta apalagi suatu departemen berikan kejutan dengan mengumumkan keberhasilan memproduksi obat, apalagi kalung ampuh buat penyembuh virus corona. Seluruh itu diumumkan secara terbuka apalagi langsung dibuat dengan kemasan yang menarik, serta presiden kita diam, seolah merestui hasil hebat“ temuan” itu.

Artikel Menarik Lainya!:   Kumpulan Lagu Terpopuler Download Iwan Fals Mp3

Perencanaan program kartu Pra Kerja yang kurang teliti berujung pada dugaan pemahalan harga yang hampir dinikmati oleh industri kepunyaan kanak- kanak muda yang keburu dinaikan bagaikan staf pembantu presiden, bila warga tidak sigap serta lekas berteriak.

Begitu kilat sehabis Jokowi dilantik, timbul bermacam Undang- Undang serta Rancangan Undang- Undang baru yang buat banyak pihak tersentak. Yang utama merupakan UU Nomor. 19 Tahun 2019 tentang pergantian kedua atas UU KPK.

Walaupun sudah terjalin bermacam keluhan serta keberatan atas UU tersebut, Presiden tidak menggubrisnya. Inilah peninggalan( Legacy) utama yang hendak ditinggalkan Jokowi dalam pelemahan upaya pemberantasan korupsi, apabila Mahkamah Konstitusi nantinya menolak mengabulkan gugatan yang lagi dalam proses.

Terdapat kesan konspirasi antara pemerintah serta DPR buat menciptakan bermacam undang- undang secara kilat tanpa mencermati aspirasi serta masukan dari publik. Terdapat RUU Omibus yang lagi dalam proses yang sangat berpihak kepada investor serta hampir tidak mencerminkan kepentingan rakyat kecil. Pula banyak UU lain yang lolos yang menguntungkan cuma sponsornya, semacam UU Minerba yang apalagi sudah memunculkan korban jiwa dari anak mahasiswa yang demo keluhan.

Permasalahan penyiraman air keras kepada seseorang penyidik KPK yang telah berlarut dibiarkan semenjak periode 1, berakhir dengan kabar sangat mengejutkan. Peranan kejaksaan agung yang ialah bawahan presiden, tidak mencerminkan tugas sesungguhnya bagaikan penuntut universal yang mewakili aspirasi rakyat namun lebih mengesankan bagaikan pembela“ tersangka”.

Ujungnya, pada permasalahan besar yang memiliki implikasi luas terhadap upaya pemberantasan korupsi ini, tersangka dihukum sangat ringan. Terdapat kesan kokoh para pengatur di balik tindak kriminal ini sudah dilindungi identitasnya.

Belum lama masih terdapat lagi kasus- kasus yang mengesankan pembiaran oleh pimpinan paling tinggi negara ini. Permasalahan menghilangnya Harun Masiku, fungsionaris PDIP dalam dugaan game penggantian antar waktu( PAW) anggota DPR. Permasalahan koruptor buron Djoko Tjandra yang dibiarkan melenggang dengan leluasa di bunda kota serta hingga dikala tulisan ini diterbitkan belum tertangkap.

Artikel Menarik Lainya!:   Artis Ini Ungkap Isi Amplop Raditya Dika Waktu Kondangan Cuma 100rb

Permasalahan lain yang baru terungkap antara lain merupakan bagi- bagi jatah ekspor benur Lobster oleh menteri kelautan baru yang mengantikan Susi Pudjiastuti kepada konco- konconya. Inilah menteri baru yang membatalkan sebagian kebijakan Susi, tercantum penenggelaman kapal kapal asing yang mencuri ikan di laut kita.

Masih fresh dalam ingatan kita kala presiden pada pelantikan menjelang jabatan periode keduanya antara lain berkata di hadapan persidangan MPR, 20 Oktober 2019:“ Aku pula memohon kepada para menteri, para pejabat serta birokrat, supaya sungguh- sungguh menjamin tercapainya tujuan program pembangunan. Untuk yang tidak sungguh- sungguh, aku tidak hendak berikan ampun. Aku yakinkan, tentu aku copot.”

Belum berselang lama tersebar rekaman pidato presiden pada persidangan kabinet tertutup yang menampilkan kemarahan dia terhadap kinerja menteri- menterinya serta lagi berjanji hendak tidak ragu berperan. Kala aksi presiden dinanti- nanti, Menteri Sekretaris Negeri malah membantah serta mengantarkan tidak terdapat relevansi antara kegusaran presiden serta rencana kocok ulang kabinet.

Kejutan terkini pada dikala aku menulis kolom ini merupakan keputusan presiden buat menugasi Menteri Pertahanan, bukan Menteri Pertanian, menggarap lumbung pangan. Sebabnya, ketahanan pangan merupakan bagian dari ketahanan nasional.

Gimana dengan ketahanan keuangan, telekomunikasi, pembelajaran, serta lain sebagainya? Apakah ini pula bagian dari ketahanan nasional serta butuh pula ditugaskan ke Menteri Pertahanan?

Seluruh itu ditambah lagi dengan perilaku presiden bagaikan seseorang bapak yang menduduki kekuasaan paling tinggi di negara ini, membiarkan putranya yang masih hijau serta tidak berpengalaman, maju bagaikan Calon Walikota Solo. Presiden tidak berdaya membujuk putranya buat tabah menanti 5 tahun lagi sehabis berakhir masa baktinya sehingga tidak terdapat spekulasi macam- macam keterlibatan kekuasaan paling tinggi negeri dalam proses pemilihannya.

Sebetulnya banyak dari kami yang bingung, apa sesungguhnya yang lagi terjalin pada seseorang Jokowi yang pada periode awal menciptakan prestasi yang lumayan mengesankan? Dapat saja kita berkata kalau Jokowi yang bukan petinggi partai apa juga membutuhkan seluruh berbagai pembiaran itu. Sebab apabila tidak, hingga rezimnya hendak hadapi bermacam kesusahan melakukan bermacam tugas tanpa sokongan kekuatan politik yang nyata.

Baca Pula: HAM, Demokrasi, serta Pemberantasan Korupsi( Kosong) di Pidato Jokowi

Artikel Menarik Lainya!:   Ukuran Gir Depan Gir Belakang dan Rantai Motor Suzuki

Tidak sadarkah dia kalau masa bulan madu dengan politisi pendukungnya itu hendak berusia tidak lebih lama dari 2 tahun dari saat ini kala mereka hendak ramai- ramai meninggalkan misi presiden serta berkonsentrasi pada perebutan kekuasaan pada pemilu 2024?

Tidak lama sehabis pelantikannya, Presiden Jokowi sempat mengatakan kalau dia tidak memiliki beban lagi. Kami menafsirkannya sebab sehabis 2 periode dia tidak hendak maju lagi bagaikan presiden.

Pada mulanya orang bernapas lega sebab tidak berbeban itu ditafsirkan bagaikan tidak hendak bisa disandera oleh kekuatan politik yang mengusungnya. Realitasnya, dari bermacam kejadian yang diucap di atas,“ tidak berbeban” itu tampaknya bukan demikian maknanya, namun lebih bagaikan tidak hirau serta leluasa dari beban kendala aspirasi, keberatan, dan keluhan dari rakyat pemilihnya.

Bagaikan pendukung Jokowi, sehabis mencermati begitu banyak keadaan suram yang lepas kendali ataupun terkesan dibiarkan dalam waktu yang sangat pendek, apalagi tidak hingga setahun dalam pemerintahan Jokowi periode 2 ini, spesialnya keadaan penegakan hukum yang kian memprihatinkan, susah untuk aku buat berkata kalau sokongan aku kepada Presiden Jokowi masih bisa dipertanggungjawabkan.

Perilaku ini, aku rasakan, pula disuarakan oleh banyak pendukung lain yang kecewa pada kinerja tahun awal periode 2 Jokowi yang mencuatkan bermacam kejutan yang memunculkan kerisauan.

Apabila dalam waktu dekat tidak timbul isyarat yang mengindikasikan langkah- langkah nyata dalam rangka mengoreksi seluruh itu, hingga hendak sangat susah untuk orang semacam aku serta banyak pendukung lain buat bertahan bagaikan barisan“ pembela” Jokowi.

Pasti saja aku sama sekali tidak bermaksud berkata kalau sokongan ataupun penolakan aku serta kawan- kawan memiliki bobot politik serta pengaruh terhadap nasib politik Jokowi ke depan. Tanpa kami juga Pak Jokowi dapat jadi hendak sukses besar sebab pemikiran kami nyatanya galat oleh karena ketidakmampuan kami menangkap apa yang sesungguhnya lagi terjalin.

Apabila demikian, anggap saja tulisan pendek ini bagaikan upaya meringankan beban moral yang aku pikul serta sekalian bagaikan penyalur unek- unek. Siapa ketahui terdapat manfaatnya.

Mudah- mudahan Tuhan berikan petunjuk kepada kita seluruh.(*)