Jurnal of Medicine: Berita Buruk Picu Serangan Jantung

oleh -
Rahasia dampak berita buruk yang mampu mengejutkan jantung mampu dipecahkan oleh tim riset dari John Hopkins College pimpinan Ilan Wittstein. Seperti yang dipublikasikan melalui the New England Magazine of Medication, Ilan Wittstein menyatakan bahwa berita buruk berhubungan erat dengan pelepasan sejumlah hormon.

Sejumlah hormon seperti adrenalin dan hormon terkejut lainya, disebut-sebut mampu mengejutkan jantung setelah seseorang mendengar kabar buruk atau sedih. Dari studi yang dipublikasikan itu disebut pula bahwa jika tidak ditangani dengan benar maka hal itu bisa disalah artikan sebagai sebuah serangan jantung.

Karena kejutann yang ditimbulkanya hanya berlangsung sementara terutama pada akhir pekan saja. Setelah melakukan penelitian atas 19 pasien yang datang ke rumah sakit dengan gejala yang sama dengan serangan jantung para peneliti melihat bahwa tidak seperti gejala serangan jantung lainya pada pasien yang umumnya para wanita manula ini tidak ditemukan penyumbatan darah pada arterti seperti umumnya para penderita serangan jantung lainnya.

Artikel Menarik Lainya!:   REFLEKSI SUMPAH PEMUDA ke-88 “ PEMUDA KARATAN,PEMUDA HARAPAN”

Para dokter yang semula menganggap sebagai serangan jantung itu menemukan adanya tumbukan `rigidity hormones` yang tinggi terutama pada `adrenalin` dan `noradrenalin` pada pasien di dalam darah mereka. Merurut para periset, `rigidity hormones` bisa menjadi racun pada jatung dan sangat efektif untuk menjadi sebuah kejutan.

Pasien yang mengalami rigidity juga memiliki hormon tinggi pada otak yang disebut dengan `mind natriuretic peptide` sekaligus sebagai indikasi bahwa jantung bekerja diatas customary. Hasil pantauan dengn menggunakan `echocardiograms` yang digunakan untuk mengukur tingkat fungsi jantung juga menunjukan gelombang yang unik setelah seorang pasien dikabarkan mengalami serangan jantung.

Dalam kasus serangan jantung, seorang pasien baru bisa memulihkan kondisi setelah beberapa pekan atau bulan. Yang pasti tim periset dari College of Hopkins ini tidak menjelaskan bagaimana `rigidity hormones` bisa berdampak pada jantung.

Mereka hanya melihat kemungkinan sebuah cairang kimia yang bisa mempengaruhi denyut jantung sehingga jantung mengalami kelebihan beban. Tim merekomendasikan dilakukanya penelitian lanjutan kepada orang-orang yang secara genetika memiliki kondisi semacam ini.

No More Posts Available.

No more pages to load.