Indonesia Diposisi Peringkat ke-71 Dalam Keamanan Pangan

oleh -50 views
Padi (Istimewa)
JAKARTA, SriwijayaAktual.com – Permasalahan ketahanan pangan masih menjadi hal yang perlu banyak
dibenahi, pasalnya Indonesia masih menempati peringkat ke-71 dari 113
negara pada 2016 dalam indeks keamanan pangan.
Dalam indeks yang disusun oleh The Economist, negara
tetangga Indonesia, Singapura menempati peringkat ketiga, Malaysia
berada di peringkat ke-35, Thailand di peringkat ke-51, diikuti Vietnam
yang menempati peringkat ke-57.
Menurut Direktur Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia
Juda Agung, inflasi harga pangan berkontribusi sebesar 73 persen
kontribusi  dari kemiskinan penduduk.
“Tren dari tahun ke tahun, harga kebutuhan lain cenderung stagnan
tapi harga pangan cenderung naik tiap tahun. Sedangkan semakin naik
harga pangan semakin banyak orang miskin,” kata Juda, Forum Dialog
Nasional Pembangunan Berkelanjutan pada hari Jumat (23/9/2016) sore, dikutip dari rimanews.com.
Dia menyebutkan bahwa inflasi tahun ini diperkirakan di kisaran 3,11 persen, namun inflasi dari harga pangan secara year to date tahun ini mencapai 7,18 persen.
“Bahkan harga cabai di Ambon mencapai 388,17 persen inflasinya,” kata Juda.
Juda lebih lanjut menjelaskan bahwa harga pangan di Indonesia
lebih mahal daripada harga rata-rata internasional. Tetapi, tingginya
harga tersebut tidak dinikmati oleh petani yang cenderung berada dalam
garis kemiskinan. 
Dia mengakui bahwa rantai distribusi yang panjang menyebabkan
kenaikan harga pangan di Indonesia. Contohnya, menurut Juda, harga gabah
yang di tingkat petani mencapai Rp 4.480 per kilogram menjadi Rp 13.108
di tingkat eceran.
Untuk itu, Bank Indonesia tengah mengembangkan program bernama
Pusat Informasi Harga Pangan Strategis atau PIHPS sebagai upaya
pengendalian harga.
“Kedepannya kita akan membentuk informasi harga pangan ritel, namun ini masih digodok,” kata Juda.
Selain itu, Bank Indonesia juga bekerja sama dengan Bank
Pembangunan Asia atau ADB mengembangkan sistem pengendalian harga dengan
teknologi informasi, sehingga dapat memutus rantai distribusi yang
panjang.
“Dengan sistem ini, misalnya nelayan dapat langsung menemukan
market nya dan para konsumen langsung dapat memesan ke nelayan, jadi end
to end, jadi harga dapat ditekan,” katanya. (*).

No More Posts Available.

No more pages to load.