Hmmmm … Murid Almarhum Nurcholis Madjid ini Sebut; Hendak Cari Imam Shalat atau Pemimpin Jakarta?

oleh -71 views
Mohammad Monib
JAKARTA, SriwijayaAktual.com – Hampir setiap menjelang pemilihan pemimpin (Pemilu
dan Pilkada), kerap kali beredar isu-isu miring yang melekat pada para
calon pemimpin, mulai dari isu-isu sensitif seperti neoliberal dari segi
ekonomi, antek partai terlarang, rasis, atau latar belakang keyakinan
agama. 
Dalam konteks Pilkada DKI 2017, isu yang sangat santer berkecamuk
adalah SARA (suku, agama, ras dan antargolongan). Hal ini karena salah
satu calon, yakni petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dari latar
belakang etnis dan agama minoritas.
Berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat, Ahok banyak diserang
karena latar belakang agamanya. Namun, hal ini tak berlaku bagi
intelektual Musim Mohammad Monib.
Murid almarhum Nurcholis Madjid ini mempunyai alasan tersendiri mengenai pemimpin non-Muslim yang memerintah umat Islam.
Baginya, non-Muslim boleh menjadi pemimpin selama dia tidak
memushi Islam, apalagi dia sebagai warga negara yang sah dan berhak
untuk mencalonkan dirinya sebagai pemimpin.
Mendukung Ahok
Direktur Indonesian Conference on Religions and Peace (ICRP)
Mohammad Monib menjelaskan jika ayat yang mengharamkan pemimpin
non-Muslim itu memiliki asbabun nuzul (sebab turunnya suatu ayat) yang lekat dengan konteks sosio-politik saat itu.
“Ahok bekerja dengan baik dan terlihat hasilnya. Banyak
programnya yang tidak dilakukan oleh gubernur Muslim sebelumnya,” kata
Monib saat  ditemui di kediamannya, Rabu (6/10/2016) malam, seperti dilansir rimanews.
Terkait kesantunan Ahok yang dikritik banyak pihak, alumni Gontor
yang tengah merintis sebuah pondok pesantren untuk kaum dhuafa ini
mengatakan jika bekas bupati Belitung Timur itu tidak bicara kasar
kepada orang-orang baik. “Ada konteksnya,” jelasnya.
Monib mendukung Ahok juga karena keyakinannya bahwa Ahok tak akan
mengusir pribumi dari Jakarta, termasuk tidak berlaku diskriminatif.
“Biar program-program yang sudah baik bisa dilanjutkan; biar preman-preman politik dan birokrasi ada lawan tandingnya,’ ujarnya.
Ahok, menurut pria asal Madura ini, sudah mengajari publik tentang
transparansi dalam birokrasi. “Bekerja untuk publik dan cukup bersih
dari korupsi. Saya butuh manajer birokrasi dan pelayan publik, bukan
imam shalat,” katanya.
Dalam memilih pemimpin, dia mengimbau masyarakat untuk berpijak
kepada konstitusi UUD 45, yang memberikan hak kepada semua warga negara
yang bisa melewati prosedur birokrasi untuk berkompetisi dalam
kepemimpinan. Menurutnya, bangsa ini bukan hanya milik orang Islam, tapi
milik bersama.
“Saya lelah melihat politisi dan birokrasi seiman nyolong dan
garong uang rakyat. Saya otonom dalam pemikiran agama, etika dan jalan
hidup. Kelak saya mandiri di hadapan Allah. Karenanya, saya wajib
mandiri dalam menentukan jalan hidup,” katanya.
Polemik al-Maidah ayat 51
Baru-baru ini, publik dibuat geger oleh pernyataan Ahok terkait
surat al-Maidah ayat 51 yang sering dijadikan argumen untuk melarang
non-Muslim menjadi pemimpin. Menurut Monib, masyarakat harus cerdas
dalam memahami makna dengan melihat historisitas ayat tersebut
diturunkan.
“Bagi saya, konteks ayat yang digunakan kan clear. Saat itu habis
perang Uhud (22 Maret 625 M); penduduk Madinah mengalami kegoncangan,
Islam kalah, sebagian orang Islam sangat terancam, kemudian mereka
menyelamatkan diri, bagaimana caranya? Ada yang berfikir mencari
penyelamatan, berkoalisi dengan kaum Quraisy, ada yang berpikir dengan
Yahudi, sementara yahudi itu melakukan banyak pelanggaran. Jadi,
al-Quran mengkritik (pemimpin non-Muslim, red) itu adalah ga ada.
Sehingga, bagi saya, kritik terhadap Ahok tidak serta-merta (dapat
dipakai untuk konteks Ahok, red), karena bagi saya Ahok tidak memusuhi
Islam,” jelasnya.
Monib menilai tidak sepatutnya kepemimpinan dilihat dari
identitas agama. “Saya lebih butuh kepada orang yang menjalankan
prinsip-prinsip kebenaran universal dibandingkan dari sekadar apa yang
disebut saya ‘islam minimalis’ itu, sekedar baca syahadat. Jadi bagi
saya gak ada masalah (dengan pemimpin non-Muslim, red),” katanya.
Monib pun mengutarakan kekecewaan kepada sejumlah politisi yang
dari luar tampak saleh, tetapi tak mampu menanggalkan perilaku koruptif.
“Secara khusus, saya kecewa; temen-temen saya, Anas Urbaningrum
(mantan Ketum Demokrat) saya kenal baik, Fuad Amin (Kyai dan Mantan
Bupati Bangkalan). Di departemen agama itu korupsinya luar biasa. Jadi,
bagi saya kalau ada orang yang bisa saya percaya sampai detik ini
antikorupsi, bersih, ya Ahok ini,” ujarnya.
Para Cagub dan Cawagub DKI 2017 (Net)
Mengapa bukan yang lain?
Monib mempunyai penilaian khusus tentang petarung lain di Pilkada
DKI 2017. Sebagaimana diketahui, pasangan lain yang bakal menantang
Ahok-Djarot adalah Anies Baswedan-Sandiaga Uno dan Agus Harimurti
Yudhoyono dan Sylviana Murni.
Terkait Anies, Monib mengaku mengenalnya secara pribadi sebagai
civitas Universitas Paramadina, jauh sebelum namanya moncer di media.
“Anies gak ada prestasinya, di paramadina, di kementrian juga
tidak ada prestasinya, orang dia batu loncat dan orang yang sangat
pragmatis. Ahok saya lihat bekerja dan saya tidak peduli degan iman dia,
yang penting dia bekerja dengan prinsip-prinsip sebagai profesional
sebagai gubernur, masjid-masjid dia bangun dan sebagainya,” terangnya.
Baca Juga Ini; Ada Apa Ini … Ada Apa Ini ??? … Kok Ahok Dihujat Serta Diteriak’ i “GILA”
Menurut Monib, nama Anies tiba-tiba melambung bukan karena hasil
kerja keras sendiri. “Anies itu hanya penjual kalimat yang indah,
tertata bagus dan wajah yang menawan, orang terpukau; sudah itu saja,”
jelasnya.
Tentang Agus, Monib mengaku masih belum percaya. “Saya tahu
Sandiaga Uno, dan juga Agus misalnya, belum percaya. Ya kalau mau
dipercaya, buktikan kalau begitu. Kenapa saya musti membuktikan kalau
saya masih melihat Ahok bekerja?” pungkasnya. (*). 

No More Posts Available.

No more pages to load.