Hidup Bersandiwara Itu Perlu?

oleh -
Hidup Bersandiwara Itu Perlu?
ilustrasi

Roda Duniawi – Sebuah iklan produk rokok dilayar kaca akhir-akhir ini sering sekali muncul. Digambarkan dalam adegan tersebut, semua orang memakaitopeng dalam interaksi sosialnya.Wajah topeng selalu tersenyum manis sementara dibaliknya memcibir. Tayangan ini cukup menarik jika kita lihat dari kenyataansehari-hari. Seringkali kita dihadapkan pada persoalan, bagaimana menyenangkan orang lain. Apalagi jika kita bekerja pada bidangjasa. Orang tidak peduli apakah hati anda sedangsenang atau galau, yang jelas mereka butuh senyum dari anda. Ada saat anda bisa menjadi diri sendiri namun ada juga saat anda harus menjadi orang lain.

Perlukah kita bersandiwara?

Dunia adalah panggung sandiwara kata Ahmad Albar, setiap orangakan mendapat peran untuk melakoninya. Dalam hidup bermasyarakat kita dituntut untukmenjaga hubungan baik dengan lingkungan sosial kita. Teman, klien, customer atau apapun itu membutuhkan sikap ramah kita. Seulas senyum, antusias ketika mendengarkan atau sekedar pujian kosong rasanya cukup membantu ketika kita menjalin kontak sosial.

Artikel Menarik Lainya!:   4 Anggapan Mitos Tentang Penyakit Kelamin yang Salah

Seorang rekan pernah bercerita bagaimana tersiksanya dia ketika bekerja sebagai teller pada sebuah bank. Dia harus bersikap manis dan ramah sementara dia sendiri sedang menghadapi persoalan pelik di rumah tangganya. Amarah, tensi yang sedang meninggi ataupun PMS (pre menstrual Syndrome) harus anda tinggalkan dirumah. Anda harus menjadi orang lain dulu sementara waktu.

Seorangtetanggayang bekerja di sebuah kedai cepat saji pernah diberi surat peringatan oleh atasannya. Persoalannya sepele, dia manyun aja ketika melayani konsumen. Sementara konsumen nyacerewetnya minta ampun. Malamnya diputusin pacar sementara pagi harinya menghadapi konsumen yang ngeselin. “Gimana ngak bête mas”, ceritanya kepadaku. Bete dilarang keras dalam hubungannya dengan pelayanan konsumen.

Artikel Menarik Lainya!:   Pemilihan Ketum PB HMI Diwarnai Baku Pukul Pendukung

Dilingkungan kerja, meski tampak sangat kompak dan bersahabat seringkaliteman “menggunting dalam lipatan”. Jika di ibaratkan panggung, kontaksosial adalah tampak depannya. Semua tampak indah dipandang. Namun dibelakang panggung sesunguhnya persaingan tetap saja terjadi. Jika persanigan dilakukan dengan sehat tentu tak mengapa namun seringkali juga terjadi persaingan yang tidak sehat. Hubungan secara personal terlihat baik namun di belakang itu sesungguhnya terjadi perang tertutup.

Demi menjaga hubungan baik dengan orang-orang disekitar kita, memakai topeng senyum merupakan sebuah pengorbanan yang tidak sia-sia. Bukankah membuat orang lain senangpun merupakan ibadah. Selain itu kemampuan menghandle perasaan, sesungguhnya merupakan ciri kedewasaan seseorang. Interaksi sosial yang positif membutuhkan penghargaan dari para pelakunya. Dalam kadar tertentu rasanya bersandiwara memang dibutuhkan asal jangan terjebak menjadi manusia-manusia munafik. [*/Wisnu Mustafa]

No More Posts Available.

No more pages to load.