HEBOH !!! … Menunggu Politisi Terjun Bebas Dari Atas Monas ?

oleh -

(Foto/Ist)

JAKARTA, SriwijayaAktual.com – TEMAN Ahok
yang merupakan kelompok pendukung Basuki Tjahaja Purnama menduga ada upaya
pembusukan secara sistematis untuk menggagalkan Ahok, julukan Basuki, kembali
menjadi Gubernur DKI Jakarta melalui jalur perseorangan pada Pilkada 2017.
Salah satu
pendiri Teman Ahok, Singgih Widyastomo, mengungkapkan hal itu di Kantor Teman
Ahok, Kompleks Graha Pejaten No 3, Jakarta Selatan, kemarin.
Singgih
membantah isi konferensi pers 5  mantan Teman Ahok yang salah satunya
meragukan validitas 1 juta KTP.
“Yang
melakukan konferensi pers tadi itu bukan bagian dari sukarelawan Teman Ahok.
Mereka sudah dikeluarkan dari struktur organisasi Teman Ahok karena melanggar
integritas dan transparansi di Teman Ahok,” kata Singgih yang juga juru
bicara Teman Ahok.
Sebelumnya, 5  mantan anggota Teman Ahok menyebut ada permainan dalam mendapatkan 1 juta
KTP untuk Ahok.
Salah satu
dari mereka, Paulus Romindo, mengatakan sukarelawan digaji Rp500 ribu setiap
mendapatkan 140 KTP per minggu.
Karena
khawatir tak terpenuhi, Paulus dan kawannya melakukan manipulasi KTP.
“Ada
barter KTP, misal Pinang Ranti sudah setor 140. Habis itu dibarter bulan depan
dengan kelurahan lain, misal Sukabumi Selatan,” ucap Paulus di Cafe Dua
Nyonya, Jakarta, kemarin.
Singgih
menegaskan pernyataan tersebut tidak patut dipercaya.
Dia menduga
ada keterlibatan kekuatan politik lewat ormas sayap partai politik agar kelima
orang itu mengungkapkan informasi salah ke masyarakat.
“Salah
satu anggota DPR bilang kan ada kabar geger di Teman Ahok. Kok dia bisa tahu
duluan? Bisa tahu kejadian seperti ini duluan makanya patut
dipertanyakan,” terangnya.
Di sisi
lain, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum menerbitkan surat perintah
penyelidikan atas adanya dugaan aliran dana Rp30 miliar ke Teman Ahok.
“Belum,”
jelas Wakil Ketua KPK Saut Situmorang saat dihubungi, (22/6/2016) kemarin. (Adm). 

Sumber, Media Indonesia

TEMAN
Ahok yang merupakan kelompok pendukung Basuki Tjahaja Purnama menduga
ada upaya pembusukan secara sistematis untuk menggagalkan Ahok, julukan
Basuki, kembali menjadi Gubernur DKI Jakarta melalui jalur perseorangan
pada Pilkada 2017.
Salah satu pendiri Teman Ahok, Singgih
Widyastomo, mengungkapkan hal itu di Kantor Teman Ahok, Kompleks Graha
Pejaten No 3, Jakarta Selatan, kemarin.
Singgih membantah isi konferensi pers lima mantan Teman Ahok yang salah satunya meragukan validitas 1 juta KTP.
“Yang
melakukan konferensi pers tadi itu bukan bagian dari sukarelawan Teman
Ahok. Mereka sudah dikeluarkan dari struktur organisasi Teman Ahok
karena melanggar integritas dan transparansi di Teman Ahok,” kata
Singgih yang juga juru bicara Teman Ahok.
Sebelumnya, lima mantan anggota Teman Ahok menyebut ada permainan dalam mendapatkan 1 juta KTP untuk Ahok.
Salah satu dari mereka, Paulus Romindo, mengatakan sukarelawan digaji Rp500 ribu setiap mendapatkan 140 KTP per minggu.
Karena khawatir tak terpenuhi, Paulus dan kawannya melakukan manipulasi KTP.
“Ada
barter KTP, misal Pinang Ranti sudah setor 140. Habis itu dibarter
bulan depan dengan kelurahan lain, misal Sukabumi Selatan,” ucap Paulus
di Cafe Dua Nyonya, Jakarta, kemarin.
Singgih menegaskan pernyataan tersebut tidak patut dipercaya.
Dia
menduga ada keterlibatan kekuatan politik lewat ormas sayap partai
politik agar kelima orang itu mengungkapkan informasi salah ke
masyarakat.
“Salah satu anggota DPR bilang kan ada kabar geger di
Teman Ahok. Kok dia bisa tahu duluan? Bisa tahu kejadian seperti ini
duluan makanya patut dipertanyakan,” terangnya.
Di sisi lain,
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum menerbitkan surat perintah
penyelidikan atas adanya dugaan aliran dana Rp30 miliar ke Teman Ahok.
“Belum,” jelas Wakil Ketua KPK Saut Situmorang saat dihubungi, kemarin.
– See more at:
http://mediaindonesia.com/news/read/52558/ada-upaya-penjegalan-ahok-jadi-calon-independen/2016-06-23#sthash.Jn7zSXno.dpuf

Artikel Menarik Lainya!:   DPR RI Minta SKK Migas Jelaskan Tren Penurunan Lifting Minyak

No More Posts Available.

No more pages to load.