HEBAT !!!, Ini Anak ..Ciptakan Bio Etanol Dari Buah Salak, Bahan Bakar Penganti BBM

oleh -74 views
Muhammad Fahmi Husein dan Rissa Restu Budi Rahayu

SLEMAN-YOGYAKARTA, SriwijayaAktual.comMuhammad  Fahmi Husein (19) dan Rissa Restu Budi
Rahayu (18) menciptakan bio etanol dari buah salak. Ide membuat bio
etanol dari buah salak awalnya tercetus ketika Fahmi melihat tumpukan
limbah buah salak di areal tempat tinggalnya di Dadapan, Wonokerto,
Turi, Sleman yang memang terkenal sebagai daerah penghasil salak.
Biasanya limbah salak sebagian kecil dimanfaatkan sebagai pupuk.
Sebagian besar dibuang, ditumpuk hingga membusuk mengakibatkan bau
menyengat. “Produksi salak setahun mencapai 28.000 ton, sedangkan sisa
buah salak yang sudah tidak layak jual rata-rata 3.000 ton pertahun,”
kata Rissa akhir pekan lalu, seperti dilansir KRjogja (20/11/2016). 
Proyek ini pada mulanya digagas oleh Fahmi dan Rissa untuk mengikuti Toyota Eco Youth Competition
ke 10. Fahmi tahun lalu sudah pernah memasukkan proposal penelitiannya
ke Eco Youth, walau belum lolos mendapat telepon pemberitahuan.
“Mereka kasih tahu, mau ikut lagi atau tidak. Kalau mau silahkan
dibuat proposalnya, karena tiga hari lagi pendaftaran sudah ditutup,”
kenang Fahmi. Maka dalam tiga hari itu pula rancangan proposal mereka
garap dan kirim. Dari total 2.533 proposal yang masuk, proposal mereka
menjadi satu diantara 25 proposal yang lolos dan berhak mempresentasikan
karya mereka di Jakarta pada 19 Desember mendatang.
Untuk membuat bio etanol, pertama-tama salak dipisahkan antara kulit,
biji dan daging buahnya. Kemudian daging buah digiling halus dan
direbus. Setelah itu diberi ragi dan difermentasi selama seminggu. “Ada
juga yang tidak direbus dan langsung difermentasi, tetapi hasilnya untuk
memfermentasi dua kali lebih lama,” terang Fahmi.
Terakhir, salak yang sudah terfermentasi diperas dan didistilasi
lebih lanjut menggunakan alat yang mereka rakit sendiri. “ Setiap
sepuluh kilogram buah salak bisa menghasilkan satu liter bio etanol.
Harganya berkisar antara Rp 30.000,00 ke atas tergantung
konsentrasinya,” terang Fahmi memaparkan nilai ekonomi bio etanol buatan
mereka.
Selain sebagai bahan bakar pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk motor dan gas untuk
kompor, ampas sisa perasan salak jika sudah dikeringkan tetap
dimanfaatkan sebagai pupuk. “Kalau dulu saya suka jijik kalau lihat
barang busuk, sekarang malah senang, dicari-cari,” curhat Rissa.
Fahmi dan Rissa saat melakukan sosialisasi ke warga Dadapn terkait bio etanol buatan mereka
Selain itu, di sela-sela kesibukan kuliah, justru hal ini menjadi
hiburan bagi Fahmi dan Rissa. Kadang kala ada kejadian yang tidak
terduga pula menyertai. Pernah suatu ketika alkhohol tumpah sehingga api
menjalar keluar. “Untung langsung bisa diatasi, jadi aman-aman saja,”
cerita Fahmi.
Pernah juga mereka alpha menaruh tanaman yang sudah diberi pupuk di
halaman yang terdapat banyak ulat. Sehingga tanaman habis dimakan ulat.
Fahmi dan Rissa sendiri sudah menggarap penelitian mereka sejak bulan
Mei 2016 saat mereka masih duduk di bangku SMA kelas XII di SMA
Muhammadiyah Pakem, Sleman.
Baca Juga Ini; KEREN !!! Pagrak, Mesin Panen Garam Karya Buatan Petani PATI

Sekarang, Fahmi mahasiswa D3 Ilmu Komputer UGM 2016 dan Rissa,
Mahasiswi Pendidikan Luar Biasa UNY 2016 ini tengah disibukkan oleh
berbagai persiapan menjelang presentasi final karya mereka sebulan lagi.
Mulai dari menyempurnakan alat, tes laboratorium hingga sosialisasi ke
dinas dan warga serta ibu-ibu PKK mengenai produk mereka.
“Alhamdulillah, respon positif. Warga dan dinas banyak yang
mendukung. Ke depannya kami berharap agar produk ini dapat dibuat secara
massal sehingga menjadi nilai tambah ekonomi bagi warga,” harap Fahmi. (Lintang FN/Red)

No More Posts Available.

No more pages to load.