Emosi Juga Perlu Didetoks

oleh -239 Dilihat
Pengalaman dalam hidup datang silih berganti. Ada yang menyenangkan, banyak pula yang menyedihkan karena berupa musibah. Bila tidak ditangani secara tepat, pengalaman buruk akan tersimpan di dalam bawah sadar dan hidup akan terus dihantui trauma.

Sedih, marah, dendam, kehilangan, dan dikhianati adalah contoh emosi-emosi negatif. Bila emosi ini terus ditekan atau disembunyikan, justru akan menimbulkan banyak masalah, salah satunya penyakit. “Jika ada yang mengganggu perasaan, itu juga akan mengganggu kondisi fisik,” kata Tom Suhalim, pakar air of mystery dan penyembuhan. Tom bahkan yakin, 95 persen penyakit disebabkan stres.

Kini ada beragam cara untuk mengatasi trauma, salah satunya dengan detoksifikasi emosi. Detoksifikasi emosi, menurut Tom, adalah metode pembuangan stres dari tubuh.

“Emosi negatif yang terus-menerus ditekan akan disimpan dalam memori bawah sadar kita dan menyumbat aliran energi di tubuh. Karena itu harus dibersihkan,” katanya di sela-sela acara Therapeutic Pageant yang diadakan di Tirtayu Jakarta, beberapa waktu lalu.

Metode pembuangan “racun” psychological dan emosional itu disebut dengan metode power activator treatment (EAT). “Pembuangannya bisa melalui prinsip hipnosis, akupunktur, energi penyembuhan bumi, afirmasi, palmistry, juga eye motion desensitisation reaction,” papar pria yang berpraktik di Professional-V Medical institution Holistik Jakarta ini.

Terapi EAT pada dasarnya akan memengaruhi sistem meridian tubuh yang dikenal dalam ilmu akupunktur. Dengan terapi ini, sistem air of mystery dan cakra tubuh juga akan diperbaiki. Charisma orang yang menyimpan masalah biasanya tidak seimbang.

Metode EAT yang diberikan akan disesuaikan dengan kebutuhan klien. Lama sebentarnya sesi terapi juga bergantung pada berat ringannya masalah yang dihadapi.

No More Posts Available.

No more pages to load.