Dalam 50 Tahun ke Belakang, Produksi Minyak Siap Jual RI Rendah Sekali, Lanjut Bagaimana Upaya Pemerintah Kedepanya?

oleh -
Foto/Ilustrasi/Ist; Pengeboran sumur minyak bumi



JAKARTA, SriwijayaAktual.com  – Produksi minyak nasional kini bergantung pada lapangan minyak
serta sumur minyak tua. Dengan kegiatan eksplorasi yang berkurang akibat
penurunan harga minyak dunia, cadangan minyak dan gas (migas) semakin
berkurang tanpa digantikan oleh temuan minyak yang sepadan jumlahnya.

Dalam
rapat kerja dengan Komisi VII DPR, Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM) Sudirman Said memproyeksikan adanya penurunan lifting
(produksi siap jual) minyak pada tahun depan. Dalam Rancangan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2016, pemerintah
mengajukan angka lifting minyak sebesar 810 ribu barel per hari.

Parlemen sendiri mengajukan angka lifting
minyak sebesar 820 ribu barel per hari. Dengan pertimbangan perkiraan
harga minyak dunia di tahun depan, pemerintah memproyeksikan lifting minyak untuk RAPBN 2017 mendatang anjlok di kisaran angka 740 ribu barel per hari sampai 760 ribu barel per hari.

Apabila proyeksi pemerintah ini benar adanya, maka penurunan produksi memang nyata. Pada 2015 lalu, realisasi lifting minyak dari target APBN tercatat sebesar 779 ribu barel per hari.

Lantas pada tahun ini, lifting minyak dipatok di angka 830 ribu barel per hari. Hingga Mei 2016, realisasi lifting mencapai 807,8 ribu barel per hari.

Besaran lifting
pada tahun ini tertolong oleh produksi dari Blok Cepu yang bakal
digenjot sampai 200 ribu barel minyak per hari. “Cepu masuki periode
puncak sehingga lapangan lain yang sudah cukup tua dan alami decline rate
tahunan sampai 20 persen. Tantangan lainnya mengembalikan laju program
pengembangan setelah mengalami penundaan di 2015 sampai 2016 sehingga
perlu ada adjustment,” ujar Sudirman saat rapat kerja dengan Komisi VII DPR di Jakarta, Selasa (14/6/2016).

Ia
menyebutkan, sudah ada ancang-ancang dari pemerintah untuk menyiapkan
sejumlah jurus untuk menahan laju penurunan produksi. Sudirman menyebut
beberapa langkah antisipasi yang disiapkan termasuk mempertahankan
jumlah pemboran sisipan, perawatan sumur, dan optimalisasi fasilitas
produksi.

Selain itu pemerintah melalui Satuan Kerja Khusus
Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) akan ikut melakukan
pengawasan atas proyek pengembangan lapangan onstream tepat waktu. Pemanfaatan gas bumi, lanjut Sudirman, juga akan dimaksimalkan untuk stakeholder domestik.

“Kami juga melihat potensi lain seperti reservoir
berkualitas rendah, penerapan teknologi tepat guna, dan melakukan
kegiatan injeksi air dan pengurangan tahap lanjut (EOR/Enhanced Oil
Recovery),” kata Sudirman.

Anggota Komisi VII DPR Kurtubi menilai penurunan lifting
minyak tahun depan yang cukup drastis merupakan lampu kuning bagi
pemerintah untuk segera menyiapkan insentif bagi pelaku industri hulu
migas agar bisa menggiatkan eksplorasi. “Dalam 50 tahun ke belakang, ini
terendah. Rendah sekali. Produksi hanya mengandalkan lapangan tua.
Lapangan baru tidak ditemukan. Perizinan investasi yang berbelit. Itu
harus disadari,” katanya. (Adm).

Sumber, Republika.co.id

No More Posts Available.

No more pages to load.