Mengintip Aktivitas Warga Kampung Mualaf Peninggalan Belanda

oleh -
Ilustrasi/Ist; Mualaf
#Liputan Ramadhan 

BLITAR-JATIM, SriwijayaAktual.com  – Di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, ada sebuah
dusun yang disering disebut Kampung Mualaf. Di dusun ini, terdapat
puluhan warga yang menjadi mualaf sejak tahun 1990-an hingga saat ini.

Pada bulan suci Ramadhan, dusun ini banyak membuat berbagai kegiatan keagamaan, apa saha? Berikut liputannya.

Kampung
Mualaf berada di Dusun Sekargadung, Desa Balerejo, Kecamatan
Pangungrejo, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Dusun ini awalnya adalah
daerah perkebunan cokelat dan kelapa yang dikelola warga Belanda.

Kegiatan
ekonomi di daerah ini mengundang masyarakat dari berbagai daerah dan
agama untuk datang bercocok tanam di sini. Sehingga, lima agama tumbuh
subur di Dusun Sekargadung, dan mereka hidup berdampingan.

Belakangan,
Dusun Sekargadung justru dikenal sebagai Kampung Mualaf. Penyebabnya,
ada puluhan warganya yang menjadi mualaf. Pada bulan Ramadhan, warga
mualaf banyak yang belajar mengaji di musala-musala dekat rumah mereka.

Mereka
belajar dengan didampingi para santri yang datang dari pondok
pesantren, dan khusus mengajar warga selama bulan suci Ramadhan. Seperti
terlihat di musala Mambaul Hisan misalnya.

Berdasarkan
pengamatan di lapangan, setiap selesai salat zuhur, warga mualaf belajar
mengaji. Ada yang masih belajar membaca huruf Arab, ada juga yang sudah
fasih membaca ayat-ayat suci Alquran.

 Suprihatin, salah satu mualaf mengatakan, sesuai bersyahadat
ketika berusia 17 tahun, dia memilih langsung menimba ilmu di pondok
pesantren selama empat tahun sebelum kembali ke kampungnya.

“Ini
saya lakukan untuk mempertebal ilmu agama Islam yang sebelumnya belum
pernah saya dapatkan selama anak-anak hingga remaja,” katanya, kepada
wartawan, Senin (13/6/2016).

Suprihatin saat ini lebih fasih
membaca Alquran dibandingkan teman mualaf yang lainnya. Saat Ramadhan
seperti saat ini, dia mengajak warga mualaf lainnya untuk belajar
mengaji bersama-sama di musala.

“Saya menjadi mualaf sejak umur
17 tahun, lalu pergi ke pondok selama empat tahun. Saya berharap mualaf
yang lain benar-benar mempelajari agama Islam dan mengamalkan,”
paparnya.

Tidak hanya belajar di musala, mualaf yang ingin
belajar di rumah, para santri akan telaten mendampingi mereka. Faktor
usia bukan menjadi penghalang bagi para mualaf ini untuk tetap belajar
membaca Alquran.

Suremi, tokoh agama Dusun Sekargadung
mengatakan, sejak awal tahun 90-an hingga saat ini, ada 53 warga
non-Muslim yang menjadi mualaf. Bahkan, ada satu keluarga yang
memutuskan menjadi mualaf.

Data para mualaf ini tercacat rapi, dibawa oleh tokoh agama Dusun Sekargadung, dan Kementrian Agama Kabupaten Blitar.

Salah seorang anggota keluarga yang memutuskan untuk menjadi mualaf itu
adalah Sami (62). Dia mengatakan, meski tidak dilakukan dalam waktu yang
bersamaan, dia dan empat anaknya kini menjadi telah Muslim.

“Anak saya empat, semua menjadi mualaf. Saya berharap nanti mendapat jalan yang lurus,” ungkapnya.

Meski
belum lancar membaca doa-doa salat, Sami mengaku tetap menjalankan
ibadah salat lima waktu. Bahkan, berkerja dengan keadaan puasa. Dia
berharap, disisa usianya nanti bila dipanggil sang khalik bisa
mendapatkan jalan yang lurus.

Semenatar itu, Misbaqul Munir,
salah satu satri pondok pesantren Lirboyo, Kediri mengatakan, ada 36
santri yang dikirim pondok pesantren Lirboyo ke Dusun Sekargadung saat
bulan Ramadhan ini.

“mereka disini hingga menjelang hari raya
Idul Fitri, untuk membimbing dan berbagi ilmu dengan warga, khusunya
para mualaf di Dusun Sekargadung,” pungkasnya.

Sumber, Sindonews

No More Posts Available.

No more pages to load.