Asal Mula … Batik Tulis Giriloyo, Dari Sejak Pembangunan Makam Raja-Raja, Hingga Saat Ini Masih Ada Pembatik Tertua di Giriloyo

oleh -48 views
Gapura Masuk Makam Raja-Raja Mataram Di Imogiri (Ist)
BANTUL-DIY YOGYAKARTA, SriwijayaAktual.com – Sebagai  warisan budaya, batik sudah akrab dengan
masyarakat Giriloyo sejak abad 17. Melalui batik, lebih dari 600 orang
menggantungkan hidupnya.
Menurut pemaparan Nur Ahmadi, Ketua II Paguyuban Batik Giriloyo,
cikal bakal membatik bermula dari pembangunan makam raja di Imogiri.
Kala itu Kerajaan Mataram tengah membangun makam, sulitnya transportasi
membuat orang-orang dari Kerajaan Mataram harus menginap di pemukiman
warga Giriloyo.
Karena sering menginap, interaksi yang terjalinpun semakin akrab.
“Orang-orang itu yang kemudian mengajari nenek moyang kami cara
membatik,” ungkapnya saat ditemui, Kamis (29/9/2016) di Show
Room Batik Tulis Giriloyo.
Pada tahun 1981 berdirilah sebuah kelompok batik yang kini merupakan
kelompok tertua yaitu kelompok Batik Bimasakti. Adanya kelompok Batik
Bimasakti ternyata belum cukup untuk menampung pembatik dari dua dusun
di sekitarnya, yaitu Dusun Cengkehan dan Dusun Karang Kulon.
“Mayoritas penduduk di tiga dusun ini adalah pembatik, tidak heran
setelah itu muncul kelompok-kelompok untuk mewadahi para pembatik,”
paparnya. Kampung Batik Tulis Giriloyo kini sudah memiliki 12 kelompok
yang mampu mewadahi seluruh pembatik yang ada di Giriloyo dan
sekitarnya.
Dalam perjalanannya Kampung Batik Giriloyo juga mengalami pasang surut. “Setelah sempat jaya, pada tahun 2006 kami collapse
karena gempa,” terangnya. Kemudian pada 27 Mei 2007 mereka membuat
gerakan kebangkitan batik dengan membuat slendang terpanjang yaitu 1.200
meter. Disini merupakan titik balik usaha batik Giriloyo. Pada hari
yang besamaan bedirilah Paguyuban Batik Giriloyo ini.
Sampai dengan saat ini Paguyuban Batik Giriloyo berhasil meingkatkan
pendapatan pembatik. Tak hanya melalui penjualan batik, paguyuban ini
juga memberdayakan masyarakat pada program paket belajar membatik bagi
pegunjung. “Dalam satu tahun lebih dari 15.000 orang datang kemari untuk
belajar membatik, biaya untuk sekali belajar adalah Rp.25.000 hingga
Rp.50.000 jika dikalikan sudah banyak keuntungan yang didapat dari paket
belajar membatik ini,” katanya sambil tersenyum.
Mbah Darisman Alias Mbah Darwis (87 Tahun) Sedang  Membatik
Di dusun ini juga terdapat salah satu pembatik tertua. Namanya adalah
Mbah Darisman  (87Tahun) yang akrab dipanggil Mbah Darwis. Mbah Darwis, wanita lanjut usia  sudah membatik jauh sebelum Indonesia merdeka dan  sejak remaja sudah gemar membatik
enggan untuk meninggalkan kegiatan ini. Ia mengaku
bahwa ia tidak akan berhenti membatik. “Saya akan tetap membatik
sepanjang hidup saya,” uangkapnya.
Karya-karya Mbah Darwis ternyata juga di pasarkan di Show Room Paguyuban
Batik Tulis Griloyo yang dikelola oleh Nur Ahmadi. “Disini juga jualan
batik karya simbah-simbah, meski tidak sehalus karya pembatik lain yang
lebih muda tetapi batik-batik hasil karya mbah Daris masih layak jual.
Ini juga bisa dijadikan alternatif bagi pengunjung yang mau membeli
batik tulis tapi harganya tidak terlalu mahal,” paparnya.
Jika batik-batik tulis yang lain dijual antar Rp.500.000 hingga
Rp.1.000.000, batik hasil karya orang-orang lanjut usia ini dijual
Rp.250.000. “Showroom ini milik bersama, jadi karya siapapun bisa masuk sini, termasuk punya mbah Daris.” Pungkasnya. (*)
Source, KRjogja

No More Posts Available.

No more pages to load.