Anomali HMI???

oleh -

Oleh Andi Fadlan Irwan

Penulis adalah Dokter Umum di Kab. Enrekang, masih aktif sebagai kader Hmi.

Bisakah HMI didefinisikan dengan sebuah aksi? Atau sebuah warna? Atau
sebuah gaya? Bagi saya, yang masuk dan bergaul di HMI di era 2000-an,
HMI adalah sebuah anomali.

Kami, yang menjadi saksi atas marak dan tumbuh
menjamurnya
organisasi-organisasi puritan dan
ideologi radikal pasca reformasi, bisa
melihat bagaimana HMI justru merespon fenomena “membanjirnya ideologi”
pasca reformasi itu dengan cara yang unik.

HMI tak larut tapi juga tak benar-benar membentengi diri dari
gelombang keterbukaan pemikiran pasca membanjirnya ide-ide dan
organisasi-organisasi mahasiswa baru pasca runtuhnya orde baru.

Di saat wacana-wacana “kiri” mendominasi kampus di akhir 90-an,
sementara di saat yang sama wacana “revivalisme politik islam” mulai
tumbuh subur di sisi yang lain, HMI terlibat (dan benar-benar terlibat
dalam pengertian yang sebenarnya) dengan semua pergulatan wacana itu
tapi tak ujug-ujug ikut di satu warna tertentu.

Tak seperti di organisasi mahasiswa Islam lainnya, di HMI 2000-an,
wajah HMI adalah wajah yang tanpa warna, atau lebih tepatnya, sangat
kaya warna.

Di HMI, anda bisa temui anak-anak muda muslim dengan segala warna dan
segala macam tradisi bergelut, berdebat, kadang tak menemukan titik
sepakat, tapi tetap bisa tertawa sama-sama. bisakah anda membayangkan
orang kiri semacam Coen Hosein Pontoh aktifis PRD itu bisa duduk semeja
dengan Ustad Arifin Ilham?

Di sudut-sudut kampus, anda bisa temui anak-anak HMI yang bercelana
cingkrang dan berjidat hitam, sementara di tempat lain, anda bisa
dapatkan anak-anak HMI berkaos oblong, dengan jins sobek-sobek, dengan
rambut mohawk.

Anda bisa temukan dengan mudah di HMI, anak-anak keluaran pesantren
yang membedah Das Capital selancar ia mengutip kitab al-umm nya
asy-syafi’i. Di HMI, anda tak hanya bisa temukan mahasiswa-mahasiswa
kedokteran yang mampu mengkritik dengan fasih buku-buku karya Fritjof
Chapra.

Mahasiswa-mahasiswa fakultas hukum yang fasih menjelaskan filsafat
illuminati suhrawardi, atau mahasiswa-mahasiswa teknik yang bisa
mengkritik ide-ide Joseph Stiglitz, anda mungkin bahkan bisa menemui
calon dokter gigi yang bisa mengkritik essay-essay Goenawan Mohamad
segampang ia mengulas karya-karya the beatles. Kombinasi yang aneh
bukan?

Walhasil, bisakah HMI didefinisikan dengan satu aksi vandalisme?
Tentu saja bisa, jika anda menolak kenyataan bahwa HMI punya seribu
wajah, yang sebagian anda suka, sebagiannya lagi anda tak mungkin suka.

Kita bisa menyebut Nurkholish Madjid, Dawam Rajardjo, atau Djohan
Efendi yang sekuler sebagai warna HMI, tapi kita tak bisa menyangkal
kalau Abu Bakar Baasyir pimpinan jamaah islamiyyah, dan Abdul Aziz Kahar
yang getol memperjuangkan penerapan syariat Islam adalah warna lain
HMI.

Kita memang tentu saja lebih familiar dengan nama-nama semacam Anas
Urbaningrum, Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, atau Anies Baswedan. Sebab
merekalah yang dekat dengan sorotan kamera, tapi ada banyak hal-hal
(juga nama-nama) lain di HMI yang bekerja jauh dari sorotan kamera.

Sewaktu ikut menjadi tim relawan bencana banjir di Mamuju Tengah
beberapa tahun lalu, saya bertemu dengan senior HMI yang telah
bertahun-tahun mengelola pesantren yang didirikan di pedalaman di tepi
hutan Mamuju sana.

Di tempat lain, sewaktu menyelenggarakan bakti sosial di pedalaman
Sulawesi Tengah, saya bertemu dengan alumni HMI yang telah
bertahun-tahun mengelola sekolah nonformal bagi anak-anak suku kaili di
pedalaman hutan sana.

Di pedalaman Sulawesi Barat lainnya, saya bertemu dengan seorang guru
honorer alumni HMI yang telah berpuluh-puluh tahun mengabdi di sebuah
sekolah dasar di pedalaman desa transmigrasi marano. Daftar ini, bisa
saja bertambah panjang, jika anda mau datang ke makassar, bertemu dengan
anak-anak muda HMI.

Di HMI lah, kita bisa melihat wajah Islam indonesia yang sebenarnya.
Dengan segala ide-ide, dari yang puritan hingga yang progresif, bergulat
dan bertarung tak pernah henti.

Di HMI lah, pertanyaan-pertanyaan remeh temeh hingga pertanyaan
besar, dari soal shalat lima waktu hingga pemilu, diulas dengan berbagai
macam pendekatan ideologi, meski sebagian besar pertanyaan-pertanyaan
itu tak pernah selesai.

HMI mungkin, adalah wajah Islam indonesia, dengan segala
perdebatannya yang tak tuntas, juga dengan segala cacat dan boroknya.
Juga dengan segala oknum-oknumnya.

Namun celakanya, yang kita temui di jalan-jalan yang macet karena
demonstrasi, atau yang kita temui di televisi yang dipenuhi berita
korupsi dan sensasi adalah wajah HMI yang penuh borok, wajah HMI yang
jelas-jelas ada dan tak bisa dipungkiri.

Tapi maukah kita menilai sebuah entitas yang tak satu dan penuh
anomali itu dari apa yang kita lihat setengah-setengah dari media sosial
dan televisi yang, jikapun tidak tendensius, setidaknya tidak mampu
mewakili wajah HMI yang plural lagi heterogen itu? Maukah kita
mendefinisikan sebuah himpunan—lebih tepatnya—kumpulan-anak-anak muda
yang sesungguhnya tak pernah satu dan lebih banyak berdebat itu?

Jadi, wajah yang manakah yang sebenarnya mewakili wajah HMI? Wajah
anak-anak muda yang gampang marah seperti yang kita lihat di televisi
beberapa hari terakhir? Atau wajah anak-anak muda yang berdiri bersama
petani-petani di Takalar saat mereka hendak digusur? Tentu anda tak bisa
menemukan jawabannya di televisi dan koran yang kita sama-sama tahu
mengabdi pada kepentingan siapa. (Klickaktifis.com/)

No More Posts Available.

No more pages to load.